Harga Minyak Terancam: Aramco Peringatkan Konsekuensi Katastropik!



KONTAN.CO.ID - DUBAI. Raksasa energi Arab Saudi, Saudi Aramco, memperingatkan bahwa konflik antara Iran dan serangan yang melibatkan Amerika Serikat serta Israel berpotensi menimbulkan konsekuensi “katastropik” bagi pasar minyak global jika terus mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Peringatan tersebut disampaikan oleh CEO Aramco, Amin Nasser, pada Selasa (10/3). Ia menegaskan bahwa gangguan berkepanjangan di jalur pelayaran strategis tersebut dapat memicu dampak serius terhadap perekonomian dunia.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia. Dalam kondisi normal, sekitar 20% pasokan minyak global melewati selat ini setiap hari. Namun, konflik yang meningkat di kawasan Timur Tengah membuat pengiriman minyak melalui jalur tersebut sebagian besar terhambat.


Pasukan Garda Revolusi Iran sebelumnya menyatakan tidak akan mengizinkan “satu liter pun minyak” keluar dari Timur Tengah apabila serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus berlanjut.

Baca Juga: Presiden Dewan Uni Eropa Sebut Rusia Jadi Penerima Manfaat Perang Timur Tengah 

“Konsekuensinya bagi pasar minyak global akan sangat besar. Semakin lama gangguan ini berlangsung, dampaknya terhadap ekonomi dunia akan semakin drastis,” ujar Nasser kepada wartawan dalam paparan kinerja perusahaan.

Ia menambahkan bahwa meskipun industri energi di kawasan tersebut pernah menghadapi berbagai gangguan sebelumnya, krisis kali ini merupakan yang terbesar yang pernah dialami sektor minyak dan gas di Timur Tengah.

Dampak Meluas ke Berbagai Sektor

Menurut Nasser, krisis di Selat Hormuz tidak hanya mengguncang sektor pelayaran dan asuransi. Gangguan distribusi energi juga berpotensi menimbulkan efek domino terhadap berbagai industri lain, termasuk penerbangan, pertanian, otomotif, hingga sektor manufaktur global.

Ketidakpastian pasokan energi juga memicu volatilitas harga minyak dunia. Harga acuan global, Brent crude oil, sempat melonjak hingga mendekati US$120 per barel pada Senin—level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.

Namun pada Selasa, harga Brent turun dan diperdagangkan di sekitar US$92 per barel setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa konflik tersebut kemungkinan dapat segera berakhir.

Baca Juga: Perang Iran Picu Krisis LPG di India, Restoran Terancam Tutup

Trump juga memperingatkan bahwa Washington akan memberikan respons yang jauh lebih keras jika Iran benar-benar memblokir ekspor minyak dari kawasan penghasil energi tersebut.

Selain itu, Trump menyebut bahwa Angkatan Laut AS dapat mengawal kapal-kapal tanker di kawasan Teluk untuk memastikan jalur pelayaran tetap aman. Namun kemampuan operasional langkah tersebut masih dipertanyakan, karena sebagian armada saat ini juga terlibat dalam operasi militer terhadap Iran dan pertahanan terhadap serangan rudal.

Aramco Hentikan Ekspor dari Teluk

Nasser mengungkapkan bahwa saat ini Aramco tidak mengekspor minyak dari kawasan Teluk karena kapal tanker tidak dapat memuat kargo dari pelabuhan di wilayah tersebut.

Meski demikian, perusahaan tetap berupaya memenuhi sebagian besar kebutuhan pelanggannya melalui jalur alternatif.

Aramco memanfaatkan jaringan pipa East-West Pipeline untuk menyalurkan minyak mentah jenis Arab Light dan Arab Extra Light menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Baca Juga: Target Perang Israel di Iran Lebih Cepat dari Jadwal 

Jalur pipa ini diperkirakan akan mencapai kapasitas penuh sekitar 7 juta barel per hari dalam beberapa hari mendatang seiring perubahan rute pengiriman oleh para pelanggan.

Selain itu, perusahaan juga mengalihkan sebagian produksi minyak untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Nasser juga menyebutkan bahwa kebakaran kecil akibat serangan terhadap kilang Ras Tanura milik Aramco pekan lalu berhasil dipadamkan dengan cepat. Kilang terbesar Aramco di dalam negeri tersebut kini sedang dalam proses untuk kembali beroperasi.

Pernyataan Nasser disampaikan setelah Aramco melaporkan penurunan laba tahunan sebesar 12%, terutama akibat melemahnya harga minyak mentah. Dalam laporan keuangan yang sama, perusahaan juga mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) untuk pertama kalinya dengan nilai hingga US$3 miliar.