KONTAN.CO.ID - BEIJING/SINGAPURA. Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis (12/3/2026) setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di kawasan Timur Tengah. Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran akan konflik berkepanjangan yang berpotensi mengganggu arus pasokan minyak melalui Strait of Hormuz. Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$ 4,47 atau 4,86% menjadi US$ 96,45 per barel pada pukul 07.33 GMT. Dalam perdagangan sebelumnya, harga Brent bahkan sempat menyentuh US$ 100 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 4,05 atau 4,64% menjadi US$ 91,30 per barel. Sebelumnya, harga Brent sempat mencapai US$ 119,50 per barel pada Senin (10/3), level tertinggi sejak pertengahan 2022. Namun harga kemudian turun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa perang dengan Iran berpotensi segera berakhir.
Baca Juga: AS Lepaskan 172 Juta Barel Minyak dari Cadangan Strategis untuk Tekan Harga Energi Meski demikian, ketegangan kembali meningkat setelah Iran melontarkan peringatan keras kepada Washington. "Bersiaplah menghadapi harga minyak mencapai US$200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan regional, yang telah Anda destabilkan." kata juru bicara komando militer Iran pada Rabu (11/3/2026), merujuk pada Amerika Serikat.
Ancaman Gangguan Pasokan Minyak
Analis dari ING Group menyebut belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan di kawasan Teluk Persia. Kondisi ini membuat gangguan aliran minyak melalui Strait of Hormuz berpotensi berlangsung lebih lama. Menurut mereka, harga minyak hanya dapat turun secara berkelanjutan jika pasokan minyak kembali mengalir normal melalui jalur tersebut. "Tanpa itu, puncak harga minyak di pasar kemungkinan masih berada di depan," tulis analis ING dalam catatan risetnya. Ketegangan juga meningkat setelah dua kapal tanker asing yang membawa fuel oil Irak diserang oleh pihak tak dikenal di perairan teritorial Irak. Serangan tersebut menyebabkan kedua kapal terbakar. Direktur Jenderal General Company for Ports, Farhan al-Fartousi, mengatakan kepada Reuters bahwa penyelidikan awal pejabat keamanan Irak menunjukkan kapal-kapal bermuatan bahan peledak yang berasal dari Iran menabrak kedua tanker tersebut.
IEA Lepas Cadangan Minyak
Di tengah lonjakan harga energi, International Energy Agency (IEA) sepakat untuk melepas cadangan minyak dalam jumlah rekor sebesar 400 juta barel guna menekan harga yang melonjak setelah pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Amerika Serikat menyumbang porsi terbesar dari pelepasan cadangan tersebut, yakni 172 juta barel yang diambil dari Strategic Petroleum Reserve. Namun, analis memperingatkan bahwa langkah tersebut kemungkinan hanya memberikan efek sementara.
Baca Juga: BMW Prediksi Laba 2026 Menyusut Seiring Tekanan Tarif Perdagangan Tina Teng, ahli strategi pasar di Moomoo ANZ, mengatakan bahwa gangguan pengiriman minyak melalui Strait of Hormuz serta potensi penghentian produksi di beberapa negara Timur Tengah dapat memicu krisis pasokan jangka panjang. Analis ING juga mempertanyakan seberapa cepat minyak dari cadangan tersebut bisa masuk ke pasar dan apakah volumenya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumen hingga aliran minyak kembali normal.
China Hentikan Ekspor BBM
Di sisi lain, China dilaporkan memerintahkan larangan segera ekspor bahan bakar olahan pada Maret. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kekurangan bahan bakar domestik akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Sumber yang mengetahui kebijakan tersebut menyebut langkah ini merupakan upaya Beijing untuk memastikan stabilitas pasokan energi di dalam negeri di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.