Harga Minyak Tergelincir 1% di Tengah Hari Ini (11/9), WTI dan Brent Kokoh di US$ 100



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak turun pada hari ini tetapi harga kedua minyak acuan tersebut berada di jalur yang tepat untuk mengakhiri minggu ini di atas US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei 2026. Sokongan datang karena meningkatnya serangan di sepanjang rute pelayaran utama di Timur Tengah memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Jumat (11/9/2026) pukul 13.00 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 turun US$ 2,01, atau 1,9% menjadi US$ 105,62 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 melemah US$ 1,38 sen atau 1,4%, menjadi US$ 101,10 per barel.


Dengan posisi saat ini, harga minyak acuan tersebut masih diperdagangkan melonjak hampir 13% secara mingguan. Ini jadi kenaikan paling tajam sejak pekan yang berakhir pada 17 Juli 2026 silam. Harga kedua minyak acuan tersebut naik lebih dari 6% pada hari Kamis (10/9/2026).

Baca Juga: Inflasi Produsen Melebihi Proyeksi, Potensi Bank of Japan Naikkan Suku Bunga Menguat

Pada perdagangan hari ini, harga minyak acuan memangkas semua kenaikan yang terjadi di awal sesi dan diperdagangkan melemah setelah Financial Times melaporkan bahwa para menteri luar negeri di Timur Tengah sedang mencoba untuk membuat kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengelola pengiriman melalui Selat Hormuz.

Sementara itu, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menguasai pelabuhan Mocha di Yaman pada hari Kamis, sehingga menimbulkan ancaman lebih lanjut terhadap lalu lintas Laut Merah. Di sisi lain, lalu lintas Teluk masih dibatasi melalui Selat Hormuz karena serangan kapal tanker di wilayah tersebut semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Saudi menandai peningkatan di luar Iran dan Selat Hormuz dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan di wilayah yang lebih luas, kata para analis.

“Meskipun volume yang signifikan masih mengalir melalui Selat Hormuz, aliran tersebut masih jauh di bawah tingkat sebelum perang, yang menggarisbawahi betapa rapuhnya situasi saat ini,” kata analis ING dalam sebuah catatan.

HARGA DIESEL AS TEMBUS US$ 6 PER GALON

Gangguan pasokan minyak akibat perang AS-Iran, serta serangan Ukraina terhadap kilang Rusia, mendorong harga rata-rata solar nasional AS melewati US$ 6 per galon untuk pertama kalinya pada hari Kamis, menurut pelacak harga GasBuddy.

Meski begitu, Presiden AS Donald Trump belum menunjukkan tanda-tanda akan meredakan serangan terhadap Iran. Ia memperingatkan AS mungkin akan menyerang Gunung Beliung Iran di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang rusak berat, namun menurutnya perang tersebut akan “berakhir segera setelah pemilu sela bulan November.

Iran mengatakan, pihaknya telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz pada hari Rabu, setelah AS menyerang lima kapal tanker minyak Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan mereka akan meningkatkan responsnya terhadap serangan lebih lanjut.

"Dengan meningkatnya peristiwa dan Iran menunjukkan kesediaannya untuk memperluas konflik ini seluas dan selama mungkin, semakin besar kemungkinan minyak mentah WTI akan menguji ulang level tertinggi $119,48 dari awal Maret," kata analis IG Tony Sycamore.

Para analis mengatakan ketahanan reli ini akan bergantung pada China, importir minyak mentah terbesar di dunia. Jika China terus melakukan pembelian, hal ini dapat memperbesar dampak gangguan pasokan dan mendorong harga lebih tinggi.

Baca Juga: Trump Tolak Permintaan Putra Mahkota Saudi untuk Serang Houthi, Ini Pemicunya

OPEC menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia pada tahun 2026 menjadi 380.000 barel per hari, salinan laporan bulanannya menunjukkan, menandai revisi penurunan kelima berturut-turut. Produksi minyak OPEC turun 640.000 barel per hari pada bulan Agustus, menurut survei Reuters.

“Pergerakan harga minyak selanjutnya tidak akan bergantung pada berita utama dan lebih bergantung pada apakah aliran fisik membaik atau semakin memburuk,” kata analis Phillip Nova Priyanka Sachdeva.

"Pertanyaannya sekarang adalah apakah pasar dapat stabil di bawah US$ 120, atau apakah gelombang lain gangguan pasokan mendorong minyak mentah ke dalam rezim harga yang benar-benar baru."