Harga Minyak Tertahan Rabu (14/1) Pagi: Brent ke US$ 65,38 dan WTI ke US$ 61,03



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menghentikan reli penguatannya pada perdagangan Rabu (14/1), setelah mencatat kenaikan selama empat hari berturut-turut.

Pelemahan tipis terjadi seiring kembalinya ekspor minyak Venezuela, meski pasar masih dibayangi kekhawatiran potensi gangguan pasokan dari Iran akibat gejolak sipil yang mematikan di negara produsen utama Timur Tengah tersebut.

Melansir Reuters, harga minyak Brent turun 9 sen atau 0,14% ke level US$ 65,38 per barel pada pukul 02.07 GMT.


Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 12 sen atau 0,20% ke US$ 61,03 per barel.

Baca Juga: Bank Dunia Ungkap Proyeksi: Separuh Negara Maju Untung, Negara Berkembang Stagnan

Sebelumnya, Brent ditutup melonjak 2,5% pada Selasa, sedangkan WTI menguat 2,8%. Dalam empat sesi perdagangan terakhir, kedua kontrak telah mencatat lonjakan harga sekitar 9,2%.

Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya aksi protes di Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari negara tersebut, yang merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa juga menyerukan agar rakyat Iran terus melakukan protes dan menyatakan bahwa bantuan “sedang dalam perjalanan”, tanpa merinci bentuk bantuan tersebut.

Analis Citi menilai gejolak di Iran berpotensi memperketat keseimbangan pasokan minyak global, terutama melalui meningkatnya premi risiko geopolitik. Citi pun menaikkan proyeksi harga Brent untuk tiga bulan ke depan menjadi US$ 70 per barel.

Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Terbatas Rabu (14/1) Pagi, Baht Thailand Sedikit Melemah

Namun, Citi mencatat bahwa sejauh ini aksi protes belum menyebar ke wilayah utama penghasil minyak Iran, sehingga dampaknya terhadap pasokan riil masih terbatas.

Risiko saat ini dinilai lebih mengarah pada gangguan politik dan logistik dibandingkan penghentian produksi secara langsung.

Di sisi lain, kekhawatiran pasar terhadap Iran sebagian terimbangi oleh perkembangan dari Venezuela.

Negara pendiri OPEC tersebut mulai membalikkan pemangkasan produksi minyak yang dilakukan di bawah embargo AS, seiring dimulainya kembali ekspor minyak mentah, menurut tiga sumber.

Dua kapal supertanker dilaporkan meninggalkan perairan Venezuela pada Senin, masing-masing membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah.

Pengiriman ini diduga menjadi bagian awal dari kesepakatan pasokan sebesar 50 juta barel antara Caracas dan Washington untuk kembali menggerakkan ekspor, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Cetak Rekor Tertinggi Rabu (14/1), Emiten Chip Jadi Pendorong

Meski demikian, fundamental pasar minyak global masih menunjukkan kondisi pasokan yang relatif longgar, bahkan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Hal tersebut diperkuat oleh data persediaan minyak AS. Berdasarkan laporan American Petroleum Institute (API), stok minyak mentah AS naik 5,23 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Januari.

Persediaan bensin juga melonjak 8,23 juta barel, sementara stok distilat meningkat 4,34 juta barel dibandingkan pekan sebelumnya.

Data resmi dari Badan Informasi Energi AS (EIA) dijadwalkan rilis pada Rabu. Sebelumnya, jajak pendapat Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS justru turun pada pekan lalu, sementara persediaan bensin dan distilat diperkirakan meningkat.