Harga Minyak Turun 3,07% Sepanjang November 2022, Simak Prediksi Selanjutnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia tercatat turun belakangan ini. Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak WTI kontrak pengiriman Desember 2022 turun 3,07% menjadi US$ 83,87 per barel per Kamis (17/11), dari US$ 86,53 per barel pada akhir Oktober 2022.

Analis DCFX Futures Lukman Leong mengatakan, penurunan harga minyak yang terjadi belakangan ini lebih disebabkan oleh fundamental permintaan dan pasokan minyak. Permintaan minyak dunia turun akibat kemerosotan ekonomi tanpa henti dan harga yang lebih tinggi.

Pada kuartal keempat 2022, permintaan minyak dunia diperkirakan akan turun sebesar 340 ribu barel per hari secara tahunan. Untuk tahun 2022, pertumbuhan permintaan telah berkurang menjadi 1,9 juta barel per hari dan diprediksi hanya tumbuh 1,7 juta barel per hari pada tahun 2023.


Dari segi pasokan, pemangkasan produksi lebih lanjut juga diperlukan meski OPEC+ telah menurunkan produksi sebesar 2 juta barel.

"Harga minyak diperkirakan masih akan tertekan ke depannya. Namun, OPEC+ diperkirakan akan kembali memangkas produksi apabila harga mendekati US$ 70 per barel," ucap Lukman saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (17/11).

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Terus Turun, Brent ke US$ 91,38 dan WTI ke US$ 83,88

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menambahkan, berkurangnya risiko geopolitik menurunkan harga minyak mentah. Hal ini terjadi setelah NATO mengatakan tidak melihat indikasi bahwa rudal Rusia yang menghantam Polandia adalah serangan yang disengaja.

Infeksi Covid China yang naik ke level tertinggi dalam 6,5 bulan juga menyebabkan kekhawatiran bahwa permintaan energi China akan menurun. Nomura melaporkan bahwa lebih dari 10% dari total produk domestik bruto China berada di bawah lockdown pada 3 November 2022.

Untuk ke depannya, Lukman melihat sentimen utama penurunan harga minyak berasal dari ketidakpastian terkait zero-Covid policy di China akibat varian baru Covid-19 yang kembali meningkatkan jumlah kasus di China. Perlambatan ekonomi global akibat kebijakan pengetatan bank sentral dunia juga akan menjadi sentimen negatif.

Ditambah lagi, produksi di Amerika Serikat terus meningkat, yakni hampir mencapai 12 juta barel per hari di bulan Agustus. Ini menjadi produksi tertinggi sejak Maret 2020.

Baca Juga: Ekonom Perkirakan BI Akan Naikkan Suku Bunga Lagi Jadi 5,50% pada Akhir Tahun

Lukman memprediksi, harga minyak dunia pada akhir tahun dapat berada di kisaran US$ 80 per barel. Sementara untuk akhir tahun 2023, harga minyak dapat berada di kisaran US$ 65-US$ 90 per barel tanpa intervensi dari OPEC dan US$ 80-US$ 90 per barel dengan intervensi pemangkasan produksi OPEC.

Permintaan minyak dunia pada 2023 diperkirakan rata-rata 101,3 juta barel per hari, sedangkan pasokan minyak sebesar 100,7 juta barel per hari. Hampir tidak ada selisih antara permintaan dan pasokannya.

Sementara itu, Sutopo memprediksi, harga minyak akan tetap stabil, bergerak di bawah atau ke US$ 100 per barel. Ia melihat harga minyak tidak akan menurun jauh.

Pasalnya, meski perkiraan permintaan menurun, ia meyakini kartel minyak akan berbuat lebih untuk mempertahankan harga, baik dengan pemangkasan produksi ataupun mencari pasar baru. "Intinya, OPEC bertujuan untuk mempertahankan harga minyak setinggi mungkin bagi para anggotanya sambil menyeimbangkan fundamental penawaran dan permintaan di seluruh dunia," kata Sutopo.

Di sisi lain, pelonggaran lockdown di China akan mengaktifkan mobilitas yang dapat mengangkat harga minyak. Permintaan China kemungkinan akan datang kembali dalam beberapa bulan mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati