KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak turun di awal perdagangan hari ini setelah menguat tiga hari berturut-turut. Kamis (6/1) pukul 8.00 WIB, harga minyak WTI kontrak Februari 2022 di New York Mercantile Exchange turun 0,75% ke US$ 77,26 per barel dari penutupan perdagangan kemarin pada US$ 77,85 per barel. Stok minyak mentah AS turun 2,1 juta barel, sebagian karena insentif pajak bagi produsen untuk mengurangi persediaan sebelum akhir tahun. Tapi, persediaan bensin melonjak lebih dari 10 juta barel, dan stok sulingan naik 4,4 juta barel. Analis mengutip permintaan yang lemah selama minggu terakhir tahun 2021 karena pembatasan akibat penyebaran varian Omicron dari virus corona. Amerika Serikat (AS) melaporkan hampir 1 juta infeksi virus corona baru pada hari Senin, penghitungan harian tertinggi dari negara mana pun di dunia dan hampir dua kali lipat dari puncak AS sebelumnya. Secara keseluruhan produk yang dipasok turun tajam, meskipun empat minggu terakhir permintaan lebih kuat daripada periode yang sama dua tahun lalu sebelum timbulnya pandemi.
Harga Minyak Turun Akibat Prospek Permintaan yang Menurun
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak turun di awal perdagangan hari ini setelah menguat tiga hari berturut-turut. Kamis (6/1) pukul 8.00 WIB, harga minyak WTI kontrak Februari 2022 di New York Mercantile Exchange turun 0,75% ke US$ 77,26 per barel dari penutupan perdagangan kemarin pada US$ 77,85 per barel. Stok minyak mentah AS turun 2,1 juta barel, sebagian karena insentif pajak bagi produsen untuk mengurangi persediaan sebelum akhir tahun. Tapi, persediaan bensin melonjak lebih dari 10 juta barel, dan stok sulingan naik 4,4 juta barel. Analis mengutip permintaan yang lemah selama minggu terakhir tahun 2021 karena pembatasan akibat penyebaran varian Omicron dari virus corona. Amerika Serikat (AS) melaporkan hampir 1 juta infeksi virus corona baru pada hari Senin, penghitungan harian tertinggi dari negara mana pun di dunia dan hampir dua kali lipat dari puncak AS sebelumnya. Secara keseluruhan produk yang dipasok turun tajam, meskipun empat minggu terakhir permintaan lebih kuat daripada periode yang sama dua tahun lalu sebelum timbulnya pandemi.