KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak melanjutkan penurunannya pada hari Rabu setelah turun lebih dari 3% ke posisi terendah enam bulan. Harga minyak turun karena kekhawatiran kelebihan pasokan dan permintaan. Rabu (13/12) pukul 13.21 WIB, harga minyak mentah berjangka Brent untuk bulan Februari turun 0,45% menjadi US$ 72,91 per barel. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate Amerika Serikat (AS) untuk bulan Januari turun 0,42% menjadi US$ 68,32 per barel. Prospek bearish menempatkan minyak di jalur penurunan selama delapan minggu berturut-turut.
Pada perdagangan kemarin, pasar tersandung angka inflasi AS yang lebih kuat dari perkiraan pada bulan November. Inflasi yang lebih tinggi memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan tidak akan menurunkan suku bunganya pada awal tahun depan, yang akan membebani konsumsi. Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terus Turun Rabu (13/12), Brent ke US$72,91 dan WTI ke US$68,32 Sementara itu, rata-rata mingguan ekspor minyak mentah Rusia melonjak ke level tertinggi sejak Juli. Hal ini menambah kekhawatiran kelebihan pasokan dan menimbulkan keraguan terhadap perjanjian pengurangan produksi baru-baru ini oleh OPEC+. Badan Informasi Energi AS menaikkan perkiraan pasokan pada tahun 2023 sebesar 300.000 barel per hari dari laporan sebelumnya menjadi 12,93 juta barel per hari. "Pertemuan kebijakan bank sentral AS yang berakhir pada hari Rabu akan menentukan arah pasar," kata Tina Teng, analis pasar di CMC Markets kepada Reuters. Dia menambahkan, sikap The Fed yang lebih hawkish dari perkiraan dapat menyebabkan penurunan harga minyak mentah lebih lanjut. The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya. Namun, investor akan fokus pada pandangan pejabat mengenai perekonomian dan suku bunga di kuartal mendatang. Baca Juga: Emiten CPO Hadapi Banyak Tantangan Tahun Ini, Begini Proyeksi di Tahun 2024