KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia melemah pada awal pekan seiring meningkatnya ketidakpastian terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, serta kekhawatiran berlanjutnya gangguan pasokan akibat terganggunya jalur pelayaran energi global. Pada perdagangan Senin (6/4/2026), kontrak Brent crude turun US$ 1,92 atau 1,76% menjadi US$ 107,11 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 2,03 atau 1,82% ke level US$ 109,50 per barel. Meski demikian, penurunan ini terjadi setelah lonjakan tajam pada sesi sebelumnya. Harga WTI sempat melonjak hingga 11%, sedangkan Brent naik sekitar 8%—kenaikan harian terbesar sejak 2020.
Negosiasi AS-Iran Masih Buntu
Pergerakan harga minyak dipengaruhi oleh ketidakjelasan arah negosiasi antara AS dan Iran terkait upaya mengakhiri konflik. Kedua pihak telah menerima kerangka awal perdamaian, namun Iran menolak untuk segera membuka kembali Selat Hormuz.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Mixed di Tengah Ancaman Trump dan Harapan Gencatan Senjata Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan keras jika tidak tercapai kesepakatan hingga batas waktu yang ditentukan. Iran juga menyatakan telah merumuskan posisi dan tuntutannya sebagai respons atas proposal gencatan senjata yang disampaikan melalui mediator.
Selat Hormuz Masih Tertutup, Pasokan Terganggu
Selat Hormuz—jalur penting yang mengalirkan minyak dari Irak, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab—masih sebagian besar tertutup akibat serangan terhadap kapal sejak konflik pecah pada 28 Februari. Kondisi ini mendorong kilang minyak global untuk mencari sumber pasokan alternatif, termasuk dari Amerika Serikat dan kawasan Laut Utara Inggris. Namun, data pelayaran menunjukkan beberapa kapal dari negara tertentu masih dapat melintas. Di antaranya kapal tanker Oman, kapal kontainer milik Prancis, dan kapal pengangkut gas milik Jepang. Hal ini mencerminkan kebijakan Iran yang hanya mengizinkan kapal dari negara yang dianggap “bersahabat”.
Persaingan Global dan Lonjakan Premi Harga
Ketatnya pasokan juga mendorong premi harga minyak spot, khususnya WTI, ke level tertinggi sepanjang masa. Kilang di Asia dan Eropa kini bersaing ketat untuk mendapatkan pasokan guna menggantikan minyak dari Timur Tengah yang terganggu. Analis dari XAnalysts, Mukesh Sahdev, menilai pembukaan Selat Hormuz kini tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga simbol kemenangan politik bagi pihak yang terlibat.
Baca Juga: Intelijen Korea Selatan Sebut Putri Kim Jong Un Dipersiapkan Jadi Penerus Risiko Perang Berkepanjangan
Prospek gencatan senjata masih suram. Iran dilaporkan menolak bertemu dengan pejabat AS dalam waktu dekat, sehingga upaya perdamaian mengalami kebuntuan.
Situasi ini meningkatkan risiko konflik berkepanjangan yang dapat terus menekan pasar energi global.
Respons OPEC+ dan Gangguan Pasokan Global
Kelompok OPEC+ sepakat meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari pada Mei. Namun, realisasi peningkatan ini diragukan karena sejumlah produsen utama mengalami gangguan produksi akibat konflik. Selain itu, Arab Saudi menaikkan harga jual resmi minyak Arab Light ke Asia ke level premium tertinggi sepanjang sejarah, yakni US$ 19,50 per barel di atas rata-rata Oman/Dubai. Di sisi lain, pasokan minyak Rusia juga terganggu akibat serangan drone Ukraina terhadap terminal ekspor di Laut Baltik. Meski demikian, terminal Ust-Luga dilaporkan telah kembali beroperasi, sementara ekspor dari pelabuhan Laut Hitam, Tuapse, diperkirakan meningkat pada April.