Harga Minyak Turun ke Level Terendah 11 Hari, Pasar Pantau Pertemuan PBB



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia merosot ke level terendah dalam 11 hari pada Senin (21/9/2026), seiring investor berharap pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini dapat membuka peluang kemajuan diplomatik dalam konflik Iran-AS. Pasar juga mencermati potensi pemulihan sebagian pengiriman minyak dari Arab Saudi.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) sempat menyentuh level terendah sejak 10 September 2026 pada perdagangan Senin.

Kontrak Brent untuk pengiriman November 2026 tercatat US$101,75 per barel pada pukul 08.59 GMT atau sekitar 15.59 WIB, turun US$2,12 atau 2%.


Sementara itu, kontrak WTI untuk pengiriman Oktober 2026 yang akan berakhir pada Selasa (22/9) turun US$1,96 atau 2% menjadi US$98,34 per barel. Adapun kontrak WTI untuk pengiriman November berada di level US$94,16 per barel.

Pergerakan harga minyak tersebut mencerminkan perubahan persepsi investor terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah. Iran dan AS kembali saling melontarkan ancaman pada Minggu (20/9/2026).

Baca Juga: Yuan China Menguat ke Level Tertinggi 3,5 Tahun Jelang Pertemuan Trump-Xi

Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang diperkirakan berada di New York pekan ini untuk menghadiri Sidang Umum PBB.

"Sepertinya ada sebagian premi risiko yang mulai dihapus dari harga minyak karena adanya harapan bahwa jalur diplomatik untuk meredakan perang AS-Iran dapat muncul pekan ini," kata Tim Waterer, kepala analis pasar KCM Trade.

Iran Buka Peluang Negosiasi

Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran disebut telah menyampaikan sejumlah persyaratan kepada mediator sebagai dasar untuk kembali terlibat dalam perundingan.

Al Jazeera mengutip kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, yang mengatakan dalam wawancara pada Sabtu (19/9) bahwa Iran telah menyampaikan persyaratannya kepada para mediator untuk kembali membuka jalur negosiasi.

Meski demikian, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih tinggi. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi yang disebut "sensitif" di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu menggunakan rudal dan drone.

Houthi juga mengklaim menyerang fasilitas Aramco di Yanbu, kota di pesisir Laut Merah yang menjadi salah satu pusat penting ekspor minyak Arab Saudi.

Pada Senin, seorang juru bicara Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa Iran akan menggunakan senjata baru dan menargetkan lokasi yang sebelumnya belum pernah diserang apabila AS melancarkan serangan baru terhadap Iran. Pernyataan tersebut dilaporkan kantor berita Fars.

Di sisi lain, China dilaporkan meminta Iran membantu mengendalikan Houthi setelah Arab Saudi meminta bantuan Beijing menyusul serangkaian serangan tersebut. Informasi itu disampaikan tiga sumber Iran yang mengetahui masalah tersebut.

Baca Juga: Bursa China Menguat Jelang Trump-Xi Senin (21/9), Saham Properti Melonjak 6,9%

Arab Saudi Tingkatkan Pengiriman Minyak via Selat Hormuz

Serangan Houthi terhadap jaringan pipa East-West milik Saudi Aramco mendorong perusahaan energi negara tersebut mengalihkan sebagian pengiriman minyak melalui Selat Hormuz pada bulan ini dan bulan depan.

Langkah tersebut dilakukan setelah sebagian pengiriman melalui Yanbu dihentikan akibat gangguan terhadap jalur pipa.

Analis JPMorgan menilai arus pengiriman minyak dari Timur Tengah masih relatif kuat meskipun terjadi gangguan pada jaringan pipa East-West milik Arab Saudi.

"Arus minyak Timur Tengah tetap sangat kuat meskipun terjadi gangguan pada jaringan pipa East-West Arab Saudi," tulis analis JPMorgan dalam catatan tertanggal 18 September.

Menurut analis tersebut, perubahan paling signifikan terjadi pada strategi pengiriman minyak Arab Saudi.

"Perubahan paling signifikan datang dari Arab Saudi," kata para analis.

Data satelit menunjukkan rata-rata volume minyak Arab Saudi yang melewati Selat Hormuz mencapai sekitar 2,9 juta barel per hari (bph) selama enam hari terakhir. Angka tersebut melonjak dibandingkan rata-rata sekitar 700.000 bph pada Agustus.