KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak mentah turun lebih dari US$ 1 per barel pada perdagangan Senin (24/8/2026). Investor memilih mengambil keuntungan (
profit taking) setelah harga minyak mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut, sementara pasar menanti pengumuman Amerika Serikat (AS) terkait sanksi baru terhadap Iran yang berpotensi semakin mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah. Mengutip
Reuters, harga minyak Brent berjangka turun US$ 1,23 atau 1,3% menjadi US$ 93,16 per barel pada pukul 10.29 WIB.
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 1,36 atau 1,6% menjadi US$ 85,70 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Ambles Lebih dari 1%, AS Bakal Umumkan Sanksi Baru ke Iran Kedua kontrak minyak tersebut sebelumnya membukukan kenaikan lebih dari 5% sepanjang pekan lalu. Kenaikan tersebut menjadi penguatan mingguan kedua berturut-turut setelah perundingan perdamaian antara AS dan Iran menemui jalan buntu. Kondisi tersebut membatasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Pasar Menanti Sanksi Baru AS
Pasar kini menunggu konferensi pers Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang dijadwalkan berlangsung pada Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT. Bessent sebelumnya mengancam akan menjatuhkan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran. Analis komoditas Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, mengatakan masih belum jelas apakah kebijakan AS untuk mengisolasi Iran secara ekonomi akan efektif. "Namun, jika langkah AS berhasil sesuai tujuan, kemampuan Iran untuk merespons melalui peningkatan kekerasan akan menjadi risiko yang semakin besar bagi pasar energi," tulis Dhar dalam catatannya. Iran sendiri mengecam rencana AS untuk mengumumkan sanksi baru. Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomasi. Tony Sycamore, analis IG Markets, mengatakan faksi yang lebih pragmatis dalam pemerintahan Iran kemungkinan menginginkan de-eskalasi, sementara kelompok garis keras kemungkinan memilih melanjutkan perlawanan.
Baca Juga: Biaya Kereta Vietnam-China Membengkak US$ 3 Miliar Jadi US$ 11,1 Miliar "Pada akhir pekan ini, kita akan memiliki gambaran yang cukup jelas mengenai pihak mana dalam kepemimpinan Iran yang lebih dominan," ujar Sycamore.
Pasokan Minyak Timur Tengah Makin Ketat
Tekanan terhadap pasokan minyak Iran juga mulai terlihat di pasar. Tawaran minyak mentah Iran kepada pembeli di China dilaporkan menurun, sementara harga minyak Iran meningkat setelah blokade AS memangkas pengiriman dari Teheran, menurut sumber perdagangan. Di tengah ketegangan tersebut, Iran memberikan izin kepada sejumlah kapal tanker minyak Irak untuk melewati Selat Hormuz setelah Baghdad berulang kali mengajukan permintaan. Informasi tersebut dilaporkan kantor berita pemerintah Iran, IRNA, pada Sabtu (22/8/2026). Sejumlah analis memperkirakan pemulihan pasokan minyak dari Timur Tengah akan berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya selama konflik AS-Iran terus berlanjut.
Analis Morgan Stanley mengatakan kondisi pasokan minyak mentah semakin ketat. Dalam beberapa pekan terakhir, persediaan minyak yang sedang dalam perjalanan (oil-on-water) mengalami salah satu penurunan paling tajam, sementara persediaan di darat juga terus menyusut, termasuk di China. "Penurunan pasokan menjadi penyebabnya, terutama dari Timur Tengah. Sejumlah sumber data menunjukkan ekspor gabungan kawasan tersebut telah kembali ke level Maret-April," tulis analis Morgan Stanley. Morgan Stanley pun memperlambat asumsi mengenai pemulihan pasokan minyak dari Timur Tengah, seiring ketidakpastian konflik AS-Iran yang masih membayangi pasar.
Baca Juga: KPMG Australia Bakal PHK Hampir 400 Pekerja, Memperingatkan Pasar yang Sulit