Harga Minyak Turun Lebih dari 1% Usai OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Mulai Agustus



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia melemah lebih dari 1% pada perdagangan Senin (6/7/2026) setelah kelompok produsen minyak OPEC+ menyepakati peningkatan target produksi mulai Agustus. Di saat yang sama, pemulihan ekspor minyak melalui Selat Hormuz turut meningkatkan prospek bertambahnya pasokan minyak global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 1,02 atau 1,41% menjadi US$ 71,10 per barel pada pukul 07.56 GMT, setelah sebelumnya ditutup naik 0,45% pada perdagangan Jumat.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 80 sen atau 1,16% menjadi US$ 67,89 per barel. Tidak ada harga penutupan WTI pada Jumat karena pasar keuangan AS libur menjelang peringatan Hari Kemerdekaan pada Sabtu.


Secara mingguan, kedua kontrak minyak tersebut relatif bergerak datar setelah mengalami tren penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz, sekaligus memantau pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk.

Baca Juga: Sidang Pemakzulan Sara Duterte Disebut Akan Pengaruhi Peta Politik Filipina 2028

Pada Minggu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) beserta sekutunya yang dipimpin Rusia atau OPEC+ menyepakati kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus. Tambahan tersebut melanjutkan peningkatan produksi dengan besaran yang sama yang telah diterapkan pada Juni dan Juli.

Meski demikian, peningkatan produksi tersebut sejauh ini belum sepenuhnya terealisasi akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz sempat membatasi ekspor dari sejumlah produsen utama OPEC, termasuk Arab Saudi, Kuwait, dan Irak, sehingga menghambat peningkatan produksi mereka.

Analis PVM menilai langkah OPEC+ dilakukan di tengah kondisi pasar yang masih tertekan.

"Mereka menjual minyak di tengah pasar yang sedang melemah sehingga memberikan sedikit harapan terhadap pemulihan harga dalam waktu dekat. Namun, harga minyak yang lebih rendah pada akhirnya akan mendorong peningkatan permintaan," tulis analis PVM dalam catatannya.

Data menunjukkan ekspor minyak dari kawasan Teluk pada Juni melonjak lebih dari 3 juta barel dibandingkan Mei hingga melampaui 10 juta barel per hari. Meski demikian, volume tersebut masih sekitar 40% lebih rendah dibandingkan tingkat sebelum pecahnya konflik.

Sementara itu, bank ANZ memperkirakan permintaan minyak global akan mengalami kontraksi pada tahun depan.

"Kami kini memperkirakan permintaan minyak global akan menyusut sebesar 1,5 juta barel per hari pada 2026. Proyeksi ini mencerminkan pelemahan yang lebih tajam dari perkiraan pada kuartal II, ketika penurunan secara tahunan berpotensi mencapai 4 juta barel per hari berdasarkan data sementara," tulis ANZ.

Baca Juga: UPDATE-Harga Emas Spot Turun dari Puncak Dua Pekan ke US$ 4.155 Senin (6/7)

Meski demikian, ANZ memperkirakan tekanan terhadap permintaan akan mulai mereda pada paruh kedua tahun ini.

"Namun, kami memperkirakan penurunan permintaan akan mulai berkurang pada paruh kedua tahun ini seiring membaiknya pasokan dan kembali pulihnya sebagian konsumsi yang sebelumnya tertunda," lanjut ANZ.

Di sisi pasokan, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dilaporkan telah menjual sekitar 16 juta barel minyak mentah Uni Emirat Arab dengan diskon yang lebih besar melalui tender spot kelima sejak Juni. Langkah tersebut menunjukkan meningkatnya pasokan minyak di pasar spot.

Selain itu, pengiriman minyak dari pelabuhan-pelabuhan Rusia di wilayah barat juga mencapai rekor tertinggi pada Juni dan diperkirakan tetap tinggi sepanjang Juli.

Menurut sumber industri, kondisi ini dipicu oleh kerusakan sejumlah kilang minyak Rusia akibat serangan drone Ukraina, sehingga Moskow meningkatkan ekspor minyak mentah untuk mengimbangi penurunan kapasitas pengolahan domestik.