KONTAN.CO.ID - PERTH. Harga minyak turun tipis pada Jumat (25/9/2026) saat pasar menimbang kemungkinan gencatan senjata antara AS dan Iran di tengah peristiwa pengeboman Arab Saudi oleh pemberontak Houthi, menyusul lonjakan harga selama sepekan terakhir. Mengutip
Reuters, harga minyak Brent turun 74 sen, atau 0,69%, menjadi US$ 105,85 per barel pada pukul 00.32 GMT, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 81 sen, atau 0,86%, menjadi US$ 93,80 per barel. Pembukaan pasar yang lesu ini kontras dengan volatilitas selama sepekan terakhir, di mana harga minyak sempat mencapai level tertinggi dalam satu minggu pada hari Kamis. Kedua kontrak acuan tersebut sempat naik hingga 5%. Brent ditutup naik 3,4% dan WTI naik 2,7%.
Baca Juga: Bursa Australia Turun Jumat (25/9), Harga Minyak Picu Kekhawatiran Suku Bunga Brent mencatatkan harga penutupan tertinggi sejak 15 September. Ini merupakan kenaikan pertama dalam beberapa hari bagi WTI, yang sebelumnya sempat turun 13% selama enam sesi perdagangan sebelumnya dan mencatat penurunan mingguan sebesar 6,42%, dibandingkan dengan kenaikan 2,09% pada Brent. Para negosiator AS dan Iran di New York sedang menjajaki langkah bertahap untuk mengakhiri konflik, yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran dan pencabutan blokade ekonomi terhadap Iran oleh Washington, menurut sumber-sumber yang mengetahui perundingan tersebut pekan ini. "Harapan akan solusi diplomatik pada dasarnya membantu harga minyak bertahan menghadapi serangan militer terbaru di Timur Tengah, dengan perdagangan minyak mentah yang cenderung melemah moderat meskipun ada serangan tersebut," ujar Tim Waterer, kepala analis di KCM Trade.
Baca Juga: Trump dan Xi Bertemu di Gedung Putih, Belum Ada Terobosan Dagang dan AI Sejak perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima dari pengiriman minyak dan gas dunia telah terganggu, yang memicu kenaikan harga sebesar 50% hanya dalam bulan Maret, sekaligus mendorong pembeli gas alam cair (LNG) untuk mencari pasokan baru yang stabil dari bahan bakar bersuhu sangat rendah tersebut di wilayah lain. Pada hari Kamis, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa keputusan mengenai kapan perang Iran akan berakhir berada di tangan Amerika Serikat.
"Amerika-lah yang harus memilih apakah mereka ingin mengakhirinya atau tidak," ujar Pezeshkian saat menanggapi pertanyaan dalam sebuah wawancara yang disiarkan hari Kamis di Fox News. Arab Saudi mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran, sehingga menggagalkan serangan terhadap provinsi Taif di wilayah selatan dan kawasan Yanbu di tepi Laut Merah; demikian pernyataan koalisi pimpinan Saudi di Yaman. Serangan yang terus berlanjut ini "menjadi pengingat nyata bahwa aset-aset minyak yang vital masih berada dalam ancaman serangan langsung," kata Waterer. Arab Saudi sedang meningkatkan volume pemompaan minyak mentah melalui Pipa Timur-Barat yang mengarah ke pusat ekspor Yanbu di Laut Merah, meskipun kegiatan pemuatan minyak mentah ke kapal tanker belum kembali berjalan, menurut sumber industri, citra satelit, dan data pelayaran.