KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia menurun seiring munculnya harapan de-eskalasi diplomatik dan sinyal awal pemulihan pasokan dari Arab Saudi. Berdasarkan data
Bloomberg hingga pukul 14.57 WIB per Senin (21/9/2026), harga minyak WTI turun 2,24% di level US$ 98,05 per barel. Sedangkan harga minyak jenis Brent di pasar ICE telah turun 2,25% di US$ 101,53 per barel.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai melandainya harga minyak dalam beberapa hari terakhir belum menandakan kondisi pasar yang sepenuhnya aman.
Baca Juga: Proses RKAB 3 Anak Usaha Disetujui, Saham Bayan (BYAN) Merosot 5,06% Menurutnya, pasar energi global masih dibayangi oleh volatilitas tinggi karena gangguan pada lini produksi dan rute distribusi di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya normal. Di saat yang sama, sisi permintaan juga menanggung tekanan akibat perlambatan ekonomi global. Lukman mencatat laporan International Energy Agency (IEA) yang memproyeksikan penurunan permintaan minyak dunia sebesar 2,5 juta barel per hari pada 2026, sementara persediaan minyak global terus menyusut akibat gangguan pasokan fisik yang masih membayangi. “Namun, kondisi pasokan global belum sepenuhnya normal, sehingga saya melihat harga minyak masih akan bertahan relatif tinggi hingga akhir tahun,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (21/9/2026). Melihat kondisi tersebut, Lukman mengingatkan investor agar terus memantau dinamika pasokan serta eskalasi geopolitik sebelum mengambil keputusan investasi. Jika kemajuan diplomasi dan pemulihan operasional di Arab Saudi berlangsung mulus, koreksi harga berlanjut. Sebaliknya, eskalasi serangan atau gangguan rute ekspor dapat memicu lonjakan risk premium secara tiba-tiba.
Baca Juga: OJK Rilis Aturan Terkait Pemegang Saham Bursa Dalam menyikapi situasi pasar yang bergejolak ini, investor disarankan untuk menerapkan strategi perdagangan yang moderat dan tidak reaktif.
Baca Juga: OJK Rilis Aturan Terkait Pemegang Saham Bursa “Jadi strategi yang lebih tepat saat ini adalah tidak mengejar kenaikan harga dan tetap mengantisipasi koreksi, tetapi juga tidak terlalu agresif mengambil posisi short karena risiko geopolitik masih besar,” kata Lukman.
Hingga akhir 2026, Lukman memproyeksikan harga minyak WTI bergerak di rentang US$ 85,00 hingga US$ 100,00 per barel, sementara Brent diperkirakan berada di kisaran US$ 90,00 hingga US$ 105,00 per barel. Apabila pemulihan pasokan Saudi berlangsung cepat dan tensi geopolitik menyurut, harga berpotensi mendekati batas bawah proyeksi. Sebaliknya, jika timbul eskalasi baru yang mengganggu jalur ekspor Timur Tengah, harga Brent berpeluang kembali menembus US$ 105,00 per barel dan WTI berpotensi melampaui US$ 100,00 per barel. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News