KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Rabu setelah Irak kembali melanjutkan ekspor minyak mentah melalui pipa menuju pelabuhan Ceyhan di Turki. Langkah ini memunculkan harapan adanya sedikit pelonggaran pasokan di tengah gangguan produksi dari kawasan Teluk. Meski demikian, ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi ini membuat harga minyak acuan global, Brent, tetap bertahan di atas level USD 100 per barel selama empat sesi perdagangan terakhir. Pada pukul 09.02 GMT, kontrak berjangka Brent tercatat turun 31 sen atau sekitar 0,3% menjadi USD 103,12 per barel, setelah sebelumnya naik lebih dari 3% pada Selasa. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat melemah USD 1,56 atau 1,6% ke level USD 94,65 per barel.
Baca Juga: Harga Emas Stabil, Investor Menimbang Risiko Timur Tengah Menjelang Keputusan The Fed Pemulihan Ekspor Irak Beri Sinyal Positif
Di Irak, sumber dari North Oil Company menyatakan bahwa ekspor minyak melalui pipa telah kembali berjalan setelah pemerintah pusat di Baghdad mencapai kesepakatan dengan Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG) pada Selasa. Kesepakatan tersebut memungkinkan dimulainya kembali aliran minyak ke pelabuhan Ceyhan. Pejabat sektor minyak sebelumnya mengungkapkan bahwa Irak menargetkan pengiriman setidaknya 100.000 barel per hari melalui jalur tersebut. Namun, analis dari MUFG, Soojin Kim, menilai bahwa dampak pemulihan ini masih terbatas. Produksi minyak Irak saat ini diperkirakan hanya sekitar sepertiga dari tingkat sebelum krisis, sementara lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas.
Produksi Irak Anjlok, Selat Hormuz Terganggu
Produksi minyak dari ladang utama di Irak selatan—yang menyumbang sebagian besar ekspor negara tersebut—dilaporkan anjlok hingga 70% menjadi hanya sekitar 1,3 juta barel per hari sejak awal Maret. Penurunan drastis ini terjadi akibat konflik Iran yang secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global.
Konflik Iran Memanas, Risiko Pasokan Masih Tinggi
Situasi geopolitik semakin memanas setelah Iran mengonfirmasi kematian kepala keamanannya, Ali Larijani, dalam serangan Israel. Ia menjadi pejabat tertinggi yang tewas sejak pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, gugur pada hari pertama perang antara Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Seorang pejabat senior Iran juga menyatakan bahwa pemimpin tertinggi baru negara tersebut menolak berbagai tawaran de-eskalasi yang diajukan melalui negara-negara perantara. Di sisi lain, militer AS mengungkapkan telah menyerang sejumlah target di sepanjang pantai Iran dekat Selat Hormuz. Serangan tersebut ditujukan untuk mengurangi ancaman rudal anti-kapal Iran terhadap pelayaran internasional.
Baca Juga: Balas Israel, Iran Luncurkan Serangan Rudal Cluster ke Tel Aviv Meski demikian, sejumlah analis melihat adanya secercah harapan bahwa konflik dapat mereda lebih cepat, terutama setelah rangkaian serangan terbaru dan perkembangan situasi politik di Iran.
Gangguan Tambahan dari Libya dan Kenaikan Stok AS
Dari Afrika Utara, Libya juga menghadapi gangguan pasokan setelah terjadi kebakaran di ladang minyak Sharara. Perusahaan minyak nasional Libya menyatakan bahwa aliran minyak kini dialihkan secara bertahap melalui jalur pipa alternatif. Sementara itu, dari sisi permintaan dan persediaan, data menunjukkan stok minyak mentah AS meningkat signifikan. Menurut sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute (API), persediaan minyak AS naik sebesar 6,56 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Maret. Angka ini jauh melampaui perkiraan kenaikan sekitar 380.000 barel dalam jajak pendapat Reuters. Secara keseluruhan, meskipun ada sinyal positif dari pemulihan ekspor Irak, pasar minyak global masih dibayangi ketidakpastian tinggi akibat konflik geopolitik dan gangguan distribusi utama. Kombinasi faktor ini diperkirakan akan terus menjaga volatilitas harga minyak dalam jangka pendek.