Harga Minyak Turun Setelah Trump Sebut Negosiasi dengan Iran Masih Berlangsung



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak bergerak melemah pada Selasa (2/6/2026) setelah melonjak tajam pada sesi sebelumnya. Pelaku pasar masih bersikap hati-hati terhadap perkembangan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung. Namun sebelumnya, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Teheran telah menghentikan sementara perundingan tidak langsung dengan Washington.

Harga minyak mentah Brent turun 53 sen atau 0,56% menjadi US$ 94,45 per barel pada pukul 13.49 WIB. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 56 sen atau 0,61% menjadi US$ 91,60 per barel.


Baca Juga: Militer China & AS Bertemu di Hawaii Pekan Lalu, Bahas Keselamatan Udara dan Maritim

Kedua kontrak acuan tersebut sebelumnya melonjak lebih dari 5% pada sesi Senin. Kenaikan itu terjadi setelah harga minyak mencatat penurunan lebih dari 16% sepanjang Mei akibat harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.

"Pasar berharap dapat segera keluar dari ketidakpastian seiring prospek tercapainya kesepakatan. Namun hingga pagi ini, belum ada perubahan signifikan bagi pasar minyak," kata Priyanka Sachdeva, Senior Market Analyst Phillip Nova.

Dalam wawancara dengan CNBC pada Senin, Trump sempat mengatakan dirinya tidak keberatan jika pembicaraan dengan Iran berakhir. Namun tak lama kemudian, ia mengunggah pernyataan di media sosial bahwa negosiasi masih berlanjut. 

Kepada ABC News, Trump juga menyatakan optimistis kesepakatan dapat dicapai untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz dalam sepekan ke depan.

Tim Waterer, Chief Market Analyst KCM Trade, mengatakan perhatian pasar saat ini tertuju pada ada tidaknya kemajuan nyata atau kemunduran dalam negosiasi AS-Iran.

"Pasar juga mencermati nada dan substansi pernyataan dari kedua pihak, terutama ancaman Iran terkait Selat Hormuz, serta pergerakan kapal tanker yang benar-benar melintas di jalur tersebut," ujarnya.

Menurut Waterer, perkembangan negosiasi AS-Iran akan menentukan apakah premi risiko yang saat ini tercermin dalam harga minyak akan tetap bertahan atau mulai berkurang.

Baca Juga: Amazon Prime Day 2026 Maju ke Juni, Ini Alasan Jadwalnya Diubah

Di sisi lain, Lebanon pada Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hezbollah dan Israel. Langkah ini dinilai sebagai upaya meredakan sebagian konflik yang selama ini memperluas perang di kawasan dan melibatkan Iran.

Sejak konflik pecah, Iran secara efektif membatasi hampir seluruh aktivitas pelayaran non-Iran keluar masuk kawasan Teluk Persia. Kondisi tersebut mengganggu sekitar seperlima arus perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global serta mendorong harga energi melonjak lebih dari 50%.

Sementara itu, ekspor minyak mentah AS mencapai rekor tertinggi 5,6 juta barel per hari pada Mei. Krisis di Timur Tengah meningkatkan permintaan minyak AS dari kilang-kilang di Asia dan Eropa, berdasarkan data pelacakan kapal yang dirilis Senin.

Menurut survei awal Reuters yang dipublikasikan Senin, persediaan minyak mentah AS diperkirakan turun sekitar 3,6 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei. Penurunan stok ini melanjutkan tren pekan sebelumnya. Persediaan bensin dan produk distilat juga diperkirakan mengalami penurunan.

Para eksekutif perusahaan pelayaran yang bertemu di Athena pada Senin menilai bahwa setiap kesepakatan damai antara AS dan Iran harus memberikan kepastian aturan yang jelas agar kapal-kapal dapat kembali beroperasi secara normal melalui Selat Hormuz.