Harga Minyak Turun Tajam Pekan Ini, Namun Tetap Tinggi Dekati US$100 per Barel



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia berpotensi mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Juni tahun lalu, meski masih bertahan di level tinggi mendekati US$100 per barel. Kondisi ini dipicu kekhawatiran atas pasokan dari Arab Saudi serta terbatasnya arus distribusi melalui Selat Hormuz.

Pada perdagangan Jumat (10/4/2026), harga minyak jenis Brent tercatat naik tipis 5 sen atau 0,05% menjadi US$95,97 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 24 sen atau 0,25% ke level US$98,11 per barel.

Gencatan Senjata Tekan Harga, Tapi Risiko Tetap Tinggi

Kedua kontrak minyak tersebut telah turun sekitar 12% sepanjang pekan ini, setelah Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan pada Selasa lalu.


Meski demikian, konflik belum sepenuhnya mereda dan aliran minyak melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas. Hal ini membuat harga minyak tetap berada di kisaran US$100 per barel, bahkan harga di pasar fisik mencatat rekor tertinggi akibat kelangkaan pasokan.

Baca Juga: The Fed Waspada! Shock Harga Minyak Bikin Inflasi Susah Turun

Analis Commerzbank menyebutkan bahwa faktor utama yang menentukan arah harga minyak adalah normalisasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz. “Jika pasokan minyak dari Teluk Persia tetap terhambat, harga minyak berpotensi kembali naik,” tulis mereka dalam riset terbaru.

Arus Kapal Masih Tersendat

Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz masih di bawah 10% dari volume normal. Mayoritas kapal yang berhasil melintas dalam 24 jam terakhir diketahui memiliki keterkaitan dengan Iran.

Teheran juga dilaporkan berencana mengenakan biaya bagi kapal yang ingin melintasi selat tersebut dalam skema perjanjian damai. Gagasan ini mendapat penolakan dari negara-negara Barat dan badan pelayaran di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas global, praktis lumpuh akibat konflik yang dimulai sejak serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Pasokan Global Masih Tertekan

Analis Saxo Bank, Ole Hansen, menyatakan bahwa sistem pasokan minyak global masih jauh dari kondisi normal. Menurutnya, pasar berjangka mulai memperhitungkan pemulihan parsial, namun pasar fisik justru mencerminkan kelangkaan pasokan yang akut.

Baca Juga: Gangguan Hormuz Picu Lonjakan Biaya Logistik, Rute Alternatif via AS Mulai Dilirik

Di sisi lain, produksi minyak Arab Saudi juga mengalami tekanan. Kantor berita negara Saudi Press Agency melaporkan bahwa serangan terhadap fasilitas energi telah memangkas kapasitas produksi sekitar 600.000 barel per hari serta menurunkan aliran pipa East-West sekitar 700.000 barel per hari.

Prospek Diplomasi dan Risiko Lanjutan

Harga minyak relatif stabil pada akhir pekan seiring pelaku pasar menyeimbangkan antara penurunan produksi Saudi dan perkembangan diplomasi. Lebanon dilaporkan akan menghadiri pertemuan dengan perwakilan AS dan Israel di Washington pekan depan guna membahas potensi gencatan senjata dalam konflik paralel dengan kelompok Hezbollah.

Meski ada sinyal diplomasi, ketidakpastian masih tinggi. Selama Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka dan pasokan dari kawasan Teluk belum pulih, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat.