KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (9/7/2026) setelah sempat menguat sehari sebelumnya. Pelaku pasar kini menimbang dampak meningkatnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap peluang perdamaian sekaligus prospek pembukaan penuh jalur pelayaran Selat Hormuz. Kontrak berjangka minyak Brent turun 11 sen atau 0,1% menjadi US$ 77,91 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 38 sen atau 0,5% ke level US$ 73,14 per barel.
Sehari sebelumnya, harga Brent dan WTI sempat menyentuh level tertinggi sejak 22 Juni setelah AS melancarkan serangan ke Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Turun, Pasar Menimbang Dampak Serangan AS Terhadap Iran Teheran kemudian membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain, sehingga kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Ketegangan terus meningkat pada Kamis. Pasukan Iran dilaporkan menyerang infrastruktur militer AS di sejumlah negara Teluk sebagai respons atas serangan Washington ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Media pemerintah Iran juga melaporkan peluncuran 10 rudal balistik ke pangkalan militer Azraq di Yordania. Meski konflik memanas, Presiden Federal Reserve New York John Williams menilai ekspektasi pasar bahwa harga minyak akan turun dalam enam hingga 12 bulan ke depan masih masuk akal. Di sisi lain, meningkatnya ancaman keamanan membuat sejumlah perusahaan asuransi perang menyarankan operator kapal untuk menunda pelayaran melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Bursa Jepang Berbalik Menguat, Saham AI Topang Nikkei di Tengah Lonjakan Harga Minyak Sebagian perusahaan asuransi lainnya juga tengah mengevaluasi kembali ketentuan perlindungan setelah serangan terhadap kapal kembali terjadi. Sebelum konflik terbaru memanas, harga minyak sebenarnya berada dalam tren melemah seiring upaya pasar menyerap tambahan pasokan dari Timur Tengah setelah gencatan senjata yang rapuh serta meningkatnya persediaan minyak. Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial bagi pasar energi dunia. Sebelum perang Iran pecah pada akhir Februari, sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global melintasi jalur tersebut. Kendali Iran atas Selat Hormuz juga menjadi salah satu alat tawar utama dalam konflik yang berlangsung. Goldman Sachs memperkirakan risiko terhadap arus pasokan minyak dari kawasan Teluk masih bergerak ke dua arah. Jika negosiasi kembali berjalan, keringanan sanksi terhadap ekspor minyak Iran diberlakukan lagi, dan keamanan pelayaran membaik, arus pengiriman diperkirakan dapat kembali normal pada akhir Juli. Namun, kegagalan perundingan, meningkatnya serangan terhadap kapal tanker, atau potensi blokade AS terhadap ekspor minyak Iran dapat kembali mengganggu pasokan global.
Direktur Riset Makro WisdomTree, Aneeka Gupta, memperkirakan harga minyak Brent masih akan bertahan di level tinggi dalam jangka pendek.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari US$ 1 per Barel, AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran "Dalam skenario dasar, Brent kemungkinan diperdagangkan di kisaran US$ 75 - US$ 85 per barel selama satu bulan ke depan dengan kecenderungan menguat tipis," ujarnya. Di luar perkembangan di Timur Tengah, Rusia juga menghentikan ekspor diesel mulai Rabu (8/7) untuk menjaga pasokan dalam negeri setelah serangan drone Ukraina ke kilang minyak memicu kelangkaan bahan bakar dan lonjakan harga di pasar domestik.