KONTAN.CO.ID -Â Harga minyak melemah tipis pada Rabu (18/2/2026) seiring kemajuan pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memunculkan harapan de-eskalasi ketegangan serta menurunkan risiko gangguan pasokan dari produsen utama Timur Tengah tersebut. Melansir Reuters, kontrak berjangka Brent turun 3 sen atau 0,04% menjadi US$67,39 per barel pada pukul 01.39 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 5 sen atau 0,08% ke US$62,28 per barel. Keduanya diperdagangkan di sekitar level terendah dua pekan.
Baca Juga: YouTube Down, Pengguna Tak Bisa Akses Kemajuan Pembicaraan Nuklir Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa Teheran dan Washington telah mencapai kesepahaman mengenai prinsip-prinsip utama dalam perundingan untuk menyelesaikan sengketa nuklir yang telah berlangsung lama. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak berarti kesepakatan final akan segera tercapai. Meski ada perkembangan positif, sejumlah analis tetap berhati-hati. Tony Sycamore, analis pasar dari IG Group menilai, terobosan signifikan memang dapat meredakan ketegangan geopolitik dan berpotensi meningkatkan pasokan minyak Iran, tetapi peluang terwujud dalam jangka pendek masih diragukan. Konsultan politik Eurasia Group bahkan memperkirakan terdapat probabilitas 65% terjadinya serangan AS terhadap Iran sebelum akhir April, yang menunjukkan risiko geopolitik belum sepenuhnya reda.
Baca Juga: Emas Menguat Tipis Usai Anjlok Lebih dari 2% Rabu (18/2) Pagi, Didukung Aksi Beli Faktor Tambahan: Produksi Kazakhstan Harga minyak juga tertekan oleh laporan media Rusia bahwa produksi di ladang minyak Tengiz di Kazakhstan salah satu yang terbesar di dunia kembali meningkat setelah sempat terganggu pada Januari. Sumber Reuters menyebut Tengiz menargetkan kembali ke kapasitas penuh pada 23 Februari. Pelaku pasar kini menantikan laporan mingguan persediaan minyak AS dari American Petroleum Institute (API) yang dirilis Rabu waktu setempat, serta data resmi dari Energy Information Administration (EIA) pada Kamis.
Baca Juga: The Fed Perlu Cermati Dampak AI sebelum Tentukan Arah Suku Bunga Analis yang disurvei Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS naik sekitar 2,3 juta barel dalam pekan yang berakhir 13 Februari.
Sementara itu, persediaan bensin diperkirakan turun sekitar 200.000 barel dan stok distilat—yang mencakup solar dan minyak pemanas diprediksi menyusut sekitar 1,6 juta barel. Secara keseluruhan, harga minyak masih bergerak dalam kisaran terbatas, dengan pasar menimbang peluang meredanya ketegangan geopolitik dan dinamika pasokan global.