Harga Minyak Turun Usai IEA Pangkas Proyeksi Permintaan Global



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia bergerak melemah pada Kamis (12/2/2026) setelah Badan Energi Internasional (IEA) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2026.

Sentimen ini menahan dampak kekhawatiran pasar terhadap potensi memanasnya kembali tensi Amerika Serikat dan Iran.

Mengacu pada data perdagangan, harga minyak Brent turun 38 sen atau sekitar 0,6% ke level US$69,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 30 sen atau 0,5% ke US$ 64,33 per barel.


Baca Juga: Harga Minyak Turun Tipis, Investor Menanti Laporan Pasokan Minyak

IEA menilai pertumbuhan permintaan minyak global akan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Lembaga tersebut juga memproyeksikan pasar akan menghadapi surplus pasokan yang cukup besar, meski sempat terjadi gangguan suplai pada Januari.

“Permintaan global diperkirakan melambat,” tulis IEA dalam laporan bulanannya.

Setelah laporan itu dirilis, harga minyak yang sempat menguat berbalik arah menjadi negatif. Sebelumnya, pasar sempat mendapat dorongan dari kekhawatiran geopolitik terkait hubungan AS dan Iran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Teheran masih akan berlanjut. Namun, ia mengakui belum ada kesepakatan konkret mengenai langkah ke depan.

Trump juga membuka kemungkinan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah jika negosiasi dengan Iran tidak membuahkan hasil.

Baca Juga: Harga Minyak Terkoreksi Pasca IEA Menurunkan Perkiraan Permintaan

Selain faktor permintaan, tekanan harga juga datang dari lonjakan persediaan minyak mentah AS. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan stok minyak mentah naik 8,5 juta barel menjadi 428,8 juta barel pekan lalu, jauh di atas perkiraan pasar.

“Kenaikan stok membatasi ruang penguatan harga,” kata analis.

Tingkat utilisasi kilang minyak AS juga turun 1,1 poin persentase menjadi 89,4%, menandakan perlambatan aktivitas pengolahan.

Dari sisi pasokan global, ekspor produk minyak Rusia melalui jalur laut pada Januari meningkat 0,7% dibanding Desember menjadi 9,12 juta ton. Kenaikan ini didorong oleh tingginya produksi bahan bakar serta turunnya permintaan domestik secara musiman.

Baca Juga: Harga Minyak Turun Setelah Pemuatan Minyak dari Pusat Ekspor Rusia Kembali Berjalan

Kombinasi proyeksi permintaan yang lebih lemah, lonjakan stok AS, dan tambahan pasokan global membuat harga minyak kembali berada dalam tekanan di pasar internasional.

Selanjutnya: Fore Kopi (FORE) Suntik Modal ke Anak Usaha Lebih dari Rp 13 Miliar

Menarik Dibaca: Tagihan Listrik Bisa Aman! Ini 9 Cara Hangatkan Kamar Tidur Anda Tanpa Boros

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News