KONTAN.CO.ID - BENGALURU/LONDON. Harga minyak dunia melemah pada perdagangan awal pekan setelah pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss berakhir dengan sinyal pelonggaran ekspor energi Iran. Kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global yang sebelumnya sempat mendorong harga naik. Sentimen pasar berubah cepat setelah Teheran menyebut telah memperoleh keringanan (waiver) untuk ekspor minyak dan petrokimia, yang membuka kembali sebagian aliran pasokan dari salah satu produsen utama dunia.
Harga Brent dan WTI Kompak Terkoreksi
Kesepakatan AS–Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan
Perubahan arah harga terutama dipicu oleh perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran. Menurut analis UBS Giovanni Staunovo kemajuan pembicaraan antara AS dan Iran di Swiss kemungkinan menjadi faktor utama yang menekan harga minyak hari ini. Kesepakatan tersebut dilaporkan mencakup keringanan ekspor minyak dan petrokimia Iran, pelepasan sebagian aset yang dibekukan, serta rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran. Baca Juga: Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri sebagai Perdana Menteri InggrisPasokan Iran Kembali Mengalir ke Pasar
Iran disebut kembali menyalurkan ekspor minyaknya yang sebelumnya sempat terhambat akibat pembatasan laut oleh AS. Menurut Staunovo, kembalinya volume tersebut menambah suplai baru ke pasar global. Pelepasan barel minyak tersebut merupakan tambahan pasokan bagi pasar. Data yang dikutip dari otoritas minyak Iran menyebutkan lebih dari 25 juta barel minyak telah melewati jalur blokade virtual sejak awal pekan. Selain Iran, beberapa negara produsen di kawasan Teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak juga dilaporkan meningkatkan penawaran minyak ke pelanggan dalam sepekan terakhir.Proyeksi Pemulihan Pasokan Masih Tidak Stabil
Meski pasokan mulai pulih, lembaga riset ANZ memperingatkan bahwa proses normalisasi produksi minyak global masih menghadapi tantangan besar. Irak, misalnya, berencana meningkatkan produksi minyak mentah secara bertahap ke kisaran 4,2 juta–4,3 juta barel per hari. ANZ memperkirakan sekitar 2 juta–3 juta barel per hari pasokan dapat kembali dalam empat minggu pertama, namun pemulihan penuh masih bergantung pada stabilitas geopolitik dan kondisi infrastruktur. Baca Juga: Jepang Ubah Strategi Komunikasi, Pasar Waspadai Intervensi Yen Mendadak Lebih lanjut, ANZ menyebut:- Pemulihan tambahan 2 juta–3,5 juta bpd mungkin terjadi pada kuartal III 2026 jika kondisi stabil
- Namun 1 juta–2 juta bpd berpotensi hilang secara permanen atau semi-permanen
- Pemulihan awal lebih didorong oleh logistik (transportasi), bukan peningkatan produksi