KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Harga minyak sedikit melemah pada hari ini karena peningkatan ekspor minyak mentah Timur Tengah dan pelepasan cadangan minyak oleh negara-negara G7 menambah pasokan, sehingga meredam kekhawatiran akan kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur minyak Teluk di tengah perang AS-Israel melawan Iran. Senin (5/10/2026) pukul 10.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 turun 66 sen atau 0,65% menjadi US$ 101,59 per barel. Sementara, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 anjlok 95 sen atau 1,03% ke
level US$ 90,12 per barel.
Brent kehilangan sebagian besar kenaikan harganya dari pekan lalu, dengan WTI turun 1,6% setelah negara-negara G7 sepakat untuk melepas 100 juta barel solar dan minyak mentah dari cadangan darurat serta berjanji untuk tidak menerapkan pembatasan ekspor energi menyusul tekanan dari Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga: Dolar AS Menguat di Pagi Ini (5/10): Masalah Fiskal Prancis Membuat Euro Terpuruk Pelepasan cadangan ini akan menambah volume ekspor minyak mentah Timur Tengah—yang tercatat naik melampaui tingkat sebelum perang pada empat dari tujuh hari di minggu terakhir bulan September menurut data pengiriman hari Senin—meskipun terjadi serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. "Keputusan G7 untuk menggunakan cadangan strategis mengurangi kekhawatiran langsung terkait pasokan yang sebelumnya memengaruhi harga, sementara muncul pandangan bahwa volume ekspor Arab Saudi kembali mendekati tingkat sebelum perang, meskipun pengiriman tersebut masih dilakukan dengan biaya lebih tinggi dan melalui rute yang kurang efisien," kata Tim Waterer, kepala analis di KCM Trade. "Kombinasi faktor tersebut cukup untuk menekan harga saat ini, meskipun risiko kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur energi di wilayah Teluk belum sepenuhnya hilang,” tambah Waterer. Kelompok Houthi menyatakan telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, Arab Saudi. Hal tersebut adalah tanggapan atas 50 serangan udara dan rudal yang dipimpin Saudi di Yaman dalam 12 jam terakhir. Belum ada konfirmasi dari pihak Arab Saudi. Pada hari Minggu (4/10/2026), pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Saudi mengumumkan peluncuran operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali seluruh wilayah negara yang dikuasai oleh kelompok Houthi yang didukung Iran. Sementara itu, Aramco secara tak terduga memangkas harga minyak mentah untuk pasar Asia bagi pengiriman bulan November ke level terendah dalam enam tahun.
Harga minyak Brent terus bertahan di atas US$ 100 per barel akibat ketegangan geopolitik yang berkepanjangan serta meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal komersial di kawasan Teluk, menurut catatan analis ING.
Baca Juga: Harga Minyak Melemah di Pagi Ini (5/10): Ekspor Minyak Mentah Timur Tengah Meningkat Di sisi lain, OPEC+ menunda peninjauan yang sedianya akan menentukan kuota produksi minyak tahun 2027 bagi para anggotanya. Penundaan ini terjadi setelah perang yang melibatkan Iran mengganggu proyek-proyek perluasan kapasitas di Timur Tengah, sehingga menimbulkan ketidakpastian terhadap perkiraan potensi produksi di masa depan, ungkap dua sumber yang mengetahui masalah tersebut. Sementara itu di Eropa, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menegaskan dalam wawancara dengan Reuters yang diterbitkan hari Sabtu bahwa Ukraina akan semakin menggencarkan serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia.