KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) mengalami kontraksi tajam pada pembukaan perdagangan Rabu pagi ini. Penurunan ini dipicu oleh optimisme pelaku pasar terhadap prospek gencatan senjata di Timur Tengah yang diharapkan dapat meredakan gangguan pasokan energi global. Kabar mengenai rencana perdamaian 15 poin antara Washington dan Teheran menjadi katalis utama yang menekan posisi harga di pasar komoditas.
Detail Pergerakan Harga Minyak
Mengutip laporan Reuters, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman AS merosot sekitar 4% pada perdagangan awal hari Rabu, 25 Maret 2026. Harga WTI sempat menyentuh level terendah di angka US $87,80 per barel saat pasar dibuka. Jika dikonversi ke Rupiah dengan kurs Rp16.916 per US$, harga tersebut setara dengan Rp1.485.224 per barel. Hingga pukul 23:05 GMT, harga minyak terpantau berada di level US$88,86 per barel, atau turun sebesar US$3,49 (sekitar 3,8%). Penurunan tajam ini merupakan pembalikan arah setelah pada hari Selasa kemarin harga WTI sempat melonjak 4,8% sebelum akhirnya keuntungannya terkikis dalam perdagangan pasca-penutupan yang volatil. Langkah mundur harga minyak ini terjadi segera setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan optimistis. Melansir Reuters, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat mengalami kemajuan signifikan dalam upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Trump bahkan menyebut telah memenangkan konsesi penting dari pihak Teheran.Poin Utama Rencana Perdamaian 15 Poin
Laporan mengenai skema perdamaian ini pertama kali mencuat melalui saluran media Israel, Channel 12. Berikut adalah rincian informasi terkait rencana gencatan senjata tersebut:- Mekanisme Gencatan Senjata: AS dikabarkan telah mengirimkan 15 poin proposal penyelesaian kepada Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
- Durasi Awal: Terdapat rencana pengumuman gencatan senjata selama satu bulan sebagai tahap awal.
- Tim Negosiasi: Proses ini dikawal langsung oleh utusan Timur Tengah AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner.
- Respon Teheran: Meskipun kabar ini beredar luas, pihak Teheran membantah adanya pertemuan langsung. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyebut laporan tersebut sebagai berita palsu.