KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpotensi volatil. Pergerakan minyak masih dibayangi risiko gangguan pasokan di tengah perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz. Kamis (8/10/2026) pukul 16.30 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 melonjak US$ 4,14 atau 4,13% menjadi US$ 102,28 per barel. Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 melesat US$ 3,71 atau 4,2% menjadi US$ 91,99 per barel.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, WTI masih berpeluang menguat dalam jangka pendek setelah gagal menembus area support. Namun, penguatan tersebut belum menunjukkan perubahan tren utama.
Baca Juga: Era AI Datangkan Investasi di Kawasan, Indonesia Dilirik untuk Pusat Data “Pada timeframe Daily, WTI kembali gagal menembus support US$ 86,77–US$ 88,47 sehingga berpotensi mengalami penguatan sementara. Namun, penguatan tersebut masih dipandang sebagai
secondary trend karena tren utama minyak masih
bearish,” ujar Geraldo dalam keterangannya, Kamis (8/10/2026). Geraldo mengatakan, kenaikan WTI masih perlu mendapat konfirmasi dari pergerakan harga terhadap resistance terdekat. Jika mampu menembus resistance dengan kuat, momentum penguatan bisa berlanjut. Sebaliknya, kegagalan
breakout dapat kembali memicu tekanan jual. “Selama harga belum mampu membentuk
breakout yang kuat terhadap resistance terdekat, kenaikan WTI masih berpotensi menjadi koreksi sebelum harga kembali bergerak turun,” pungkasnya. Di sisi lain, risiko gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz menjadi sentimen yang perlu dicermati pasar. Gangguan terhadap distribusi minyak dapat menopang harga dalam jangka pendek. Namun, kenaikan harga masih berhadapan dengan tambahan pasokan dari pelepasan cadangan minyak strategis. Faktor tersebut dapat membatasi penguatan minyak di tengah kekhawatiran pasokan akibat risiko geopolitik.
Baca Juga: Haji Isam Tuntaskan Akuisisi 30,25% Saham BYAN, Harga Beli di Rp 2.588 per Saham Geraldo memperkirakan, WTI masih berpeluang melanjutkan
rebound dalam jangka pendek, tetapi ruang penguatannya tetap bergantung pada kemampuan harga menembus resistance terdekat. Jika breakout tidak terjadi dan tekanan jual kembali meningkat, WTI berpotensi kembali melanjutkan tren bearish. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News