Harga Minyak WTI Dibayangi Tekanan, Ini Proyeksi Pergerakannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih menghadapi tekanan di tengah meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Harapan meredanya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran serta prospek surplus pasokan global turut membebani pergerakan harga.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 1,14 atau 1,29% ke level US$ 86,98 per barel pada Kamis (5/11/2026). Penurunan ini terjadi seiring aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang mulai mendekati kondisi normal.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan tekanan terhadap harga minyak juga terlihat dari sisi teknikal. Pada grafik harian, WTI telah memasuki tren bearish yang cukup kuat. Indikator Stochastic menunjukkan sinyal bearish divergence dan bergerak menuju area oversold.


Baca Juga: BEI Tambah Informasi Status Investor di Data Pemegang Saham 1%, Ini Panduan Ceknya

“Tekanan penurunan masih berlanjut dan berpotensi membawa harga menuju zona support terdekat pada kisaran US$ 80,90–US$ 83,41,” ujar Geraldo dalam keterangannya, Kamis (5/11/2026).

Dari sisi fundamental, berkurangnya risiko gangguan distribusi melalui Selat Hormuz berpotensi mengurangi premi risiko geopolitik pada harga minyak. Selain itu, prospek surplus pasokan global dalam beberapa bulan mendatang juga menjadi tekanan, terutama apabila pertumbuhan permintaan tidak mampu mengimbangi peningkatan produksi.

Meski demikian, persediaan minyak di beberapa negara konsumen yang relatif rendah serta perbaikan permintaan dari Amerika Serikat masih berpotensi menahan pelemahan lebih dalam.

Dalam riset tersebut, Dupoin Futures menilai pergerakan WTI masih cenderung bearish dan berpeluang menguji zona support US$ 80,90–US$ 83,41 per barel. Geraldo menyebut, respons harga di area tersebut akan menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya.

Baca Juga: Saham Tempo Inti Media (TMPO) Melesat Hingga Disuspensi, Ada Perubahan Pemegang Saham

“Apabila tekanan jual tetap kuat, harga berpeluang melanjutkan penurunan untuk menguji area tersebut. Namun, respons harga ketika memasuki zona support akan menunjukkan apakah tren bearish masih berlanjut atau mulai mengalami perlambatan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News