Harga minyak WTI melambung ke level tertinggi sejak 2014



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik untuk hari kelima pada hari Rabu (6/10) ke level tertinggi sejak 2014. Di tengah kekhawatiran global tentang pasokan energi dengan tanda-tanda pengetatan di pasar minyak mentah, gas alam, dan batubara.

Harga minyak mentah Brent juga naik untuk hari keempat di tengah kecemasan pasokan, terutama setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, memutuskan pada hari Senin untuk tetap peningkatan produksi yang direncanakan secara bertahap.

Melansir Reuters pukul 08.33 WIB, harga emas WTI sebelumnya naik menjadi US$79,18 per barel, tertinggi sejak 10 November 2014. Pasar naik 0,15%, atau 12 sen, pada US$79,05 per barel, pada 0128 GMT.


Baca Juga: Bursa Asia bergerak naik mengekor rebound Wall Street, Rabu (6/10) pagi

Sedangkan, harga emas mentah Brent naik 0,15% atau 12 sen US$82,68 per barel setelah naik ke level tertinggi tiga tahun pada sesi sebelumnya.

Pada hari Senin, OPEC+ setuju untuk mematuhi pakta Juli untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari (bph) setiap bulan hingga setidaknya April 2022, menghapus 5,8 juta barel per hari dari pengurangan produksi yang ada.

"Minyak mentah memperpanjang kenaikan karena investor khawatir tentang ketatnya pasar karena krisis energi meningkatkan permintaan," kata ANZ dalam sebuah catatan.

"Kenaikan (OPEC+) jauh di bawah ekspektasi pasar, mengingat krisis energi di seluruh dunia. Tidak mengherankan, ada spekulasi bahwa OPEC akan dipaksa untuk bergerak sebelum pertemuan yang dijadwalkan berikutnya jika permintaan terus melonjak."

Akhir bulan lalu, Komite Teknis Bersama OPEC+ (JTC) mengatakan pihaknya memperkirakan defisit pasokan 1,1 juta barel per hari tahun ini, yang bisa berubah menjadi surplus 1,4 juta barel per hari tahun depan.

Harga minyak telah melonjak lebih dari 50% tahun ini, menambah tekanan inflasi yang dikhawatirkan negara-negara konsumen minyak mentah seperti Amerika Serikat dan India akan menggagalkan pemulihan dari pandemi Covid-19.

Baca Juga: Minyak mencapai level tertinggi tiga tahun setelah OPEC+ tetap pada rencana produksi

Meskipun ada tekanan untuk meningkatkan produksi, OPEC+ khawatir bahwa gelombang global keempat infeksi Covid-19 dapat menekan pemulihan permintaan, sebuah sumber mengatakan kepada Reuters sedikit sebelum pembicaraan Senin.

Namun, data persediaan dari Amerika Serikat, konsumen minyak terbesar dunia, menunjukkan beberapa tanda permintaan bahan bakar yang melambat.

American Petroleum Institute melaporkan persediaan minyak AS naik 951.000 barel dalam seminggu hingga 1 Oktober, situs web Oilprice.com melaporkan pada hari Selasa. Persediaan bensin dan bahan bakar sulingan juga naik.

Baca Juga: Harga emas spot turun ke US$1.758 di tengah penguat dolar dan yield US Treasury

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto