KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpeluang melanjutkan penguatan, ditopang kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah dan penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS). Melansir Trading Economics pada Kamis (22/10) pukul 16.45 WIB, harga minyak mentah WTI parkir di level US$ 99,7 per barel, atau menguat 2,6% secara harian dan 1,63% sepekan terakhir. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit berpandangan, secara teknikal, tren
bullish WTI masih berpeluang berlanjut selama harga mampu bertahan di atas zona support US$ 95,22-US$ 96,78 per barel.
Jika momentum penguatan terjaga, harga minyak berpotensi menguji resistance di US$ 101,28 hingga US$ 103,35 per barel dalam jangka pendek.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Kehilangan Momentum, Berpotensi Anjlok ke US$ 4.040 per Ons Troi Geraldo menjelaskan, harga WTI telah melewati area resistance sebelumnya yang kini berpotensi menjadi support. "Perubahan fungsi resistance menjadi support memberikan sinyal penting bagi prospek pergerakan minyak mentah. Setelah berhasil melewati area resistance sebelumnya, harga kini berpeluang menguji kembali zona tersebut sebelum melanjutkan tren kenaikan," jelas Geraldo dalam risetnya, Kamis (22/10/2026). Dari sisi fundamental, harga minyak mendapat dukungan dari meningkatnya risiko gangguan pasokan energi di Timur Tengah. Eskalasi konflik dan serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah target di Arab Saudi, termasuk fasilitas minyak, menambah kekhawatiran pasar terhadap keamanan infrastruktur energi dan kelancaran distribusi minyak di kawasan Teluk. Risiko geopolitik menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga minyak karena gangguan terhadap fasilitas produksi maupun jalur distribusi berpotensi mengurangi pasokan yang tersedia di pasar global. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan premi risiko yang diperhitungkan pelaku pasar dalam harga minyak.
Selain faktor geopolitik, penurunan persediaan minyak mentah AS turut memberikan sentimen positif. Berkurangnya stok dapat mengindikasikan pengetatan pasokan dalam jangka pendek, meski dampaknya terhadap harga tetap bergantung pada keseimbangan permintaan dan penawaran secara keseluruhan.
Baca Juga: Japfa (JPFA) Bakal Serap Capex Jumbo hingga Akhir Tahun 2026, Cek Prospek Sahamnya Kombinasi risiko pasokan dari Timur Tengah dan penurunan persediaan AS berpotensi menopang harga WTI. Namun, perkembangan konflik dan upaya diplomasi tetap perlu dicermati karena meredanya ketegangan dapat mengurangi premi risiko geopolitik yang menopang harga minyak. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News