KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih menghadapi tekanan koreksi dalam jangka pendek di tengah tarik-menarik sentimen geopolitik. Melansir
Bloomberg pada Selasa (13/10/2026) pukul 20.30 WIB, harga minyak mentah WTI bertengger di level US$ 92,8 per barel atau melemah 0,99% secara harian, tetapi masih mencatat kenaikan 3,48% sepekan terakhir. Harga minyak mentah WTI berpotensi melanjutkan koreksi setelah tertahan di area resistance US$ 94,39-US$ 96,51 per barel dalam jangka pendek.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Bervariasi Selasa (13/10), Saham Chip Kembali Tertekan Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit memproyeksikan harga minyak berpeluang turun menuju area support US$ 89,53-US$ 87,92 per barel jika tekanan jual masih berlanjut. Dalam analisis teknikalnya, Geraldo melihat harga WTI berpeluang membentuk pola ABC Correction, yang mengindikasikan potensi koreksi setelah pergerakan harga sebelumnya. Selama belum mampu menembus area resistance tersebut, tekanan bearish masih berpotensi membayangi pergerakan minyak. Kegagalan harga menembus resistance dapat menjadi indikasi bahwa momentum kenaikan belum cukup kuat untuk mendorong WTI bergerak lebih tinggi. Sebaliknya, jika harga berhasil menembus area tersebut, tekanan bearish berpotensi melemah sehingga skenario pergerakan perlu ditinjau kembali. “Namun, perkembangan fundamental dapat mengubah arah harga dan memengaruhi validitas skenario tersebut. Salah satu faktor yang berpotensi mendukung harga minyak adalah meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah,” ujar Geraldo dalam risetnya, Selasa (13/10/2026). Risiko gangguan pasokan maupun distribusi energi di kawasan tersebut dapat memicu kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan minyak mentah global. Jalur distribusi energi yang strategis juga perlu dicermati karena gangguan pelayaran berpotensi menghambat pengiriman minyak mentah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas harga, terutama apabila perkembangan geopolitik memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan.
Di sisi lain, prospek meredanya konflik Rusia-Ukraina berpotensi membatasi kenaikan harga minyak. Perkembangan diplomatik yang mendorong pemulihan pasokan energi dapat mengurangi kekhawatiran pasar terhadap keterbatasan pasokan global. Jika pasokan meningkat sementara permintaan tidak tumbuh cukup kuat untuk menyerap tambahan volume, harga minyak berpotensi menghadapi tekanan. Dengan demikian, pergerakan WTI masih akan dipengaruhi oleh keseimbangan antara risiko gangguan pasokan dan prospek ketersediaan energi global.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Brent Berpotensi Tembus US$ 115 per Barel Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News