Harga Minyak WTI Tembus US$ 101,6 per Barel, Ini Pendorongnya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. Risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang menopang harga minyak di tengah ketidakpastian perkembangan diplomasi Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Melansir Trading Economics pada Rabu (28/10/2026) pukul 15.45 WIB, harga WTI berada di US$ 101,6 per barel. Nilai ini mengalami penguatan 1,64% secara harian dan 4,66% dalam sepekan terakhir. Bahkan, harga minyak WTI saat ini melonjak 13,8% dalam satu bulan.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, secara teknikal, harga WTI kembali mendapat dukungan beli di area US$ 97,59-US$ 99,40 per barel pada perdagangan harian. Bertahannya harga di zona tersebut membuka peluang bagi minyak untuk melanjutkan tren penguatan.


Selain itu, pola bullish pennant yang terbentuk mengindikasikan potensi kelanjutan tren kenaikan setelah harga mengalami konsolidasi. Selama mampu bertahan di atas area support tersebut, harga WTI berpeluang menguji resistance di kisaran US$ 103,89-US$ 106,71 per barel dalam jangka waktu pendek.

Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 0,31% ke 5.282 pada Rabu (28/10), ASII, BBCA, AMMN Top Gainers LQ45

“Dari sisi pola pergerakan harga, terbentuknya pola Bullish Pennant turut memperkuat indikasi potensi kelanjutan tren bullish. Pola ini umumnya muncul setelah pergerakan naik yang kuat, kemudian diikuti fase konsolidasi sebelum harga berpotensi meneruskan arah tren sebelumnya,” jelas Geraldo dalam risetnya, Rabu (28/10/2026).

Dari sisi fundamental, risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pelaku pasar. Ketidakpastian geopolitik di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan premi risiko pada harga minyak, terutama jika eskalasi konflik mengganggu produksi maupun distribusi minyak mentah.

Di sisi lain, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran turut memengaruhi prospek harga. Harapan dimulainya kembali perundingan sempat memicu koreksi karena pasar memperhitungkan kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik.

Baca Juga: Rupiah Terus Merosot, Begini Dampaknya ke Pasar Saham

Jika proses diplomasi berlanjut dan risiko gangguan pasokan berkurang, tekanan terhadap harga minyak berpotensi meningkat. Sebaliknya, eskalasi konflik yang mengancam kelancaran pasokan dapat kembali menopang harga.

Dengan demikian, pergerakan WTI selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik serta kemampuan harga bertahan di zona support. Pelaku pasar perlu mencermati kedua faktor tersebut untuk mengukur peluang kelanjutan tren penguatan maupun risiko koreksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News