Harga Minyak WTI Terancam Turun, Harapan Damai AS-Iran Jadi Sentimen



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpotensi melanjutkan koreksi dalam jangka pendek, setelah gagal menembus zona resistance US$ 102,51-US$ 104,21 per barel.

Selasa (27/10/2026) pukul 13.00 WIB, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Desember 2026 turun 88 sen atau 0,86%, ke US$ 100,88 per barel.

Kedua harga minyak mentah acuan ini turun 1% di awal sesi.


Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit memproyeksi, secara teknikal harga minyak WTI berpeluang turun menuju area support US$ 97,65-US$ 95,25 per barel.

Baca Juga: Map Aktif Adiperkasa (MAPA) Raup Pendapatan Rp 16,43 Triliun hingga Kuartal III-2026

Geraldo bilang, kegagalan harga menembus zona resistance mengindikasikan momentum beli belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan lebih lanjut. Kondisi tersebut membuka peluang terbentuknya pola koreksi ABC (ABC Correction).

"Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas rentang tersebut, tekanan bearish masih berpotensi mendominasi. Kegagalan menembus resistance menunjukkan bahwa upaya penguatan menghadapi hambatan, sehingga membuka peluang bagi harga untuk kembali terkoreksi," ungkap Geraldo dalam risetnya, Selasa (27/20/2026).

Meski demikian, respons harga di sekitar area support akan menentukan arah pergerakan selanjutnya. Jika tekanan jual mereda, area tersebut berpotensi memicu aksi beli yang dapat menahan koreksi.

Dari sisi fundamental, perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran turut memengaruhi prospek harga minyak. Harapan meredanya ketegangan kedua negara berpotensi mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak.

Ketika kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mereda, premi risiko yang tercermin dalam harga minyak berpotensi menyusut. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap harga WTI, terutama ketika penguatan harga juga tertahan di zona resistance.

Baca Juga: Pendapatan Astra Otoparts (AUTO) Naik 15% Jadi Rp 17,02 Triliun, Ditopang Manufaktur

Namun, risiko geopolitik di Timur Tengah masih perlu diwaspadai. Eskalasi konflik yang mengganggu produksi maupun distribusi minyak, termasuk infrastruktur energi dan jalur pelayaran strategis, berpotensi kembali mengangkat harga minyak.

Dengan demikian, arah harga WTI masih akan dipengaruhi oleh kombinasi sinyal teknikal dan perkembangan geopolitik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News