Harga Minyak WTI Terkoreksi 12,76% Sepekan, Simak Proyeksi Pekan Depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta perkembangan konflik Rusia-Ukraina masih menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan harga minyak.

Melansir Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup di US$ 90,83 per barel pada akhir perdagangan Jumat (6/11/2026), naik 0,34% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Meski demikian, secara mingguan harga WTI masih terkoreksi 12,76%.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu faktor yang membuat harga minyak berfluktuasi adalah perkembangan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meskipun AS dan Iran tengah menjalani proses negosiasi yang dimediasi Qatar, peluang tercapainya kesepakatan damai dinilai masih belum pasti.


Baca Juga: Harga Emas Dunia Berpotensi Fluktuatif, Prospek Jangka Menengah Masih Positif

Menurutnya, persoalan program nuklir Iran menjadi salah satu hambatan utama dalam perundingan kedua negara. Kondisi tersebut membuat risiko konflik di kawasan Timur Tengah masih membayangi pasar minyak dunia.

"Walaupun Iran dan Amerika terjadi negosiasi di bawah kepemimpinan Qatar, kemungkinan besar perjanjian ini tidak akan terjadi karena permasalahan utamanya adalah uranium. Artinya, ketegangan sebenarnya di Timur Tengah masih terjadi," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (8/11/2026).

Selain konflik AS-Iran, perkembangan situasi di Selat Hormuz juga menjadi perhatian pasar. Jalur pelayaran strategis tersebut sempat kembali dibuka selama dua hari sehingga mendorong penurunan harga minyak. Namun, risiko serangan terhadap kapal-kapal yang melintas masih berpotensi mengganggu kelancaran distribusi minyak dunia.

Sentimen lainnya datang dari konflik Rusia dan Ukraina. Ibrahim bilang, rencana pertemuan kedua negara untuk membahas perdamaian belum tentu menjadi pertanda berakhirnya konflik. Pasalnya, gencatan senjata yang tercapai berpotensi hanya berlangsung sementara dan kembali diikuti serangan.

"Secara nyata, kemungkinan besar gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina itu hanya bersifat sementara. Kemungkinan besar akan kembali lagi terjadi serangan yang sporadis," jelasnya.

Ibrahim menambahkan, berlanjutnya konflik Rusia-Ukraina berpotensi kembali menekan pasokan minyak. Begitu pula dengan ketegangan di Timur Tengah yang dapat memicu kenaikan harga apabila eskalasi konflik AS-Iran kembali meningkat.

Untuk perdagangan pekan depan, Ibrahim memperkirakan WTI akan menguji area US$ 86 per barel sebagai level support dan US$ 97 per barel sebagai level resistance.

Baca Juga: DOOH Akuisisi INET Rp 2 Triliun, Simak Prospek dan Risikonya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News