Harga minyak WTI turun, kapasitas tangki yang penuh bisa bikin harga kembali negatif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turun lagi di awal pekan ini. Harga minyak WTI untuk pengiriman Juni 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 16,47 per barel pada Senin (27/4) pukul 6.34 WIB.

Harga minyak WTI ini turun 2,77% jika dibandingkan dengan harga penutupan perdagangan akhir pekan lalu pada US$ 16,94 per barel. Harga minyak WTI masih belum mampu kembali ke atas level US$ 20 per barel setelah mencapai level terendah pada Selasa (21/4) lalu. Ketika itu, harga minyak WTI kontrak Juni ditutup pada US$ 11,57 per barel.

Sementara harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Juni 2020 di ICE Futures justru menguat 1,03% ke US$ 21,66 per barel dari harga akhir pekan lalu pada US$ 21,44 per barel.


Baca Juga: Terimbas Harga Minyak, Begini Prediksi Kurs Rupiah Hari Ini (27/4)

Jeff Currie dari Goldman Sachs Group Inc memperingatkan bahwa ada gelombang surplus yang mengaliri ke sistem distribusi minyak. Investor akan khawatir dengan tangki-tangki yang sudah mencapai kapasitas penuh. "Fundamental minyak berarti harga negatif akan terjadi lagi," kata Currie seperti dikutip Bloomberg.

Pekan lalu, harga minyak mencatat penurunan dalam tiga minggu berturut-turut. Harga minyak Brent turun 24% dan harga minyak WTI turun sekitar 7%.

Para trader minyak memperkirakan permintaan akan jauh lebih rendah daripada suplai selama berbulan-bulan ke depan karena disrupsi ekonomi akibat pandemi virus corona. Investor pun akan mencermati kinerja keuangan sejumlah produsen minyak besar seperti Exxon Mobil, BP Plc, dan Royal Dutch Shell pada pekan ini.

Baca Juga: Bursa global masih memerah terjangkit Covid-19

Seiring dengan rilis kinerja, para produsen minyak kemungkinan akan mengumumkan pemangkasan produksi. Apalagi ekonomi global diperkirakan kontraksi alias turun hingga 2%, lebih buruk daripada krisis finansial 12 tahun lalu.

Penyimpanan minyak dunia pun penuh karena produksi minyak tidak terserap akibat sepinya permintaan.

Editor: Wahyu T.Rahmawati