Harga Naik, AS Batalkan Rencana Membeli 6 Juta Barel Minyak untuk Cadangan Darurat



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menarik tawaran untuk membeli 6 juta barel minyak untuk Cadangan Minyak Strategis atawa Strategic Petroleum Reserve (SPR) karena harga minyak diperkirakan akan terus meninkat setelah Arab Saudi mengumumkan penurunan produksi. Hal itu diungkapkan juru bicara Departemen Energi pada hari Selasa (1/8).

AS membuat permintaan terbaru untuk membeli minyak mentah asam untuk SPR pada 7 Juli. Setelah pemerintah mengeluarkan rekor 180 juta barel dari cadangan tahun lalu untuk mengendalikan harga setelah invasi Rusia ke Ukraina. Setidaknyam Departemen Energi AS telah membeli kembali 6,3 juta barel dalam beberapa bulan terakhir.

Langkah tersebut bukanlah penolakan atas tawaran perusahaan minyak untuk menjual minyak ke SPR, tetapi keputusan yang diambil berdasarkan "kondisi pasar", kata juru bicara tersebut.


Orang tersebut tidak merinci apa artinya, tetapi pasokan minyak yang ketat telah menyebabkan harga minyak global naik di atas US$ 80 per barel dalam beberapa minggu terakhir.

Harga minyak diperkirakan akan naik lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang setelah Arab Saudi mengatakan akan memangkas produksi sebesar 1 juta barel per hari mulai Juli, di atas pemotongan lain dari delapan negara OPEC+ yang diumumkan pada April.

American Petroleum Institute mengindikasikan pada hari Selasa bahwa stok minyak mentah AS turun sekitar 15,4 juta barel dalam pekan yang berakhir 28 Juli, kata sumber.

Pemerintahan Biden mengatakan ingin membeli kembali minyak untuk cadangan ketika harga minyak di kisaran US$ 67 hingga US$ 72 per barel.

Departemen Energi "tetap berkomitmen pada strategi penambahan SPR" yang mencakup pembelian langsung, pengembalian minyak yang dipinjamkan ke perusahaan setelah badai dan gangguan pasokan lainnya, dan pembatalan rencana penjualan di mana penarikan tidak diperlukan, berkoordinasi dengan Kongres, kata juru bicara itu.

Rekor penjualan tahun lalu dari cadangan tersebut telah mendorong level minyaknya ke level terendah dalam sekitar 40 tahun, meskipun produksi minyak mentah domestik sekarang lebih tinggi.

Editor: Anna Suci Perwitasari