Harga Nikel Bisa Naik Lagi karena Filipina Akan Terapkan Pajak Ekspor Nikel



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Terkoreksi sejak awal tahun, harga nikel diprediksi bakal menanjak lagi. Pendorong harga nikel akan datang dari Filipina yang mengisyaratkan untuk mengenakan pajak ekspor atas nikel.

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, tren positif pada komoditas nikel akan terdorong rencana pajak ekspor atas ekspor nikel mentah oleh Filipina pada akhir Januari lalu. Bahkan, produsen nikel terbesar kedua dunia tersebut berpotensi melarang ekspor sepenuhnya sebagaimana yang dilakukan Indonesia.

“Berita tersebut memicu kekhawatiran akan turut membuat pasokan nikel di pasar global semakin ketat,” ujar Girta kepada Kontan.co.id, Jumat (24/2).


Baca Juga: Diantara Saham Emiten BUMN, Analis Ini Jagokan Saham BRIS dan ANTM

Girta bilang, larangan ekspor bijih nikel yang diberlakukan pemerintah Indonesia sejak awal 2020 terbukti telah berhasil mendongkrak tren harga nikel global menjadi bullish. Sebagaimana komoditas lain, pergerakan harga nikel juga tidak lepas dari hukum pasar yakni pasokan dan permintaan.

“Gangguan pada keseimbangan salah satu sisi akan turut berdampak pada pergerakan harga nikel,” sambungnya.

Potensi kenaikan harga nikel dinilai masih cukup besar, namun tentu harus juga didukung oleh katalis positif seperti Filipina yang merealisasikan rencana pengenaan pajak ekspor ataupun melarang ekspor sepenuhnya atas nikel mentah. Serta, pemulihan ekonomi China berjalan sesuai yang diharapkan.

Menurut Girta, sinyal pembukaan kembali ekonomi China menjadi katalis positif di sisi permintaan nikel. Sebab, posisi China selaku negara importir nikel terbesar pertama di dunia bisa menyerap ketersediaan nikel.

Dia memproyeksikan harga nikel pada semester I-2023 berpotensi menemui level resistance di kisaran harga US$ 30.000 per ton – US$ 32.000 per ton. Apabila mendapat katalis negatif, maka harga nikel berpotensi menemui level support di kisaran harga US$ 23.000 per ton – US$ 21.000 per ton.

Baca Juga: Kinerja Vale Indonesia Tak Sesuai Harapan, Bagaimana Rekomendasikan Saham INCO?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat