JAKARTA. Kenaikan harga aluminium dan nikel mendorong prospek kinerja emiten tambang, tetapi menjadi beban baru bagi industri manufaktur yang menghadapi kenaikan biaya produksi. Melansir data Trading Economics pada penutupan perdagangan hari Jumat (27/3), aluminium naik 0,81% menjadi US$ 3.275 per ton. Sementara itu, nikel menguat 0,29% ke level US$ 17.215 per ton. Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan kenaikan harga kedua logam tersebut menjadi katalis positif bagi margin laba bersih perusahaan tambang.
Harga Nikel dan Aluminium Naik, Biaya Industri Otomotif Berpotensi Terkerek
JAKARTA. Kenaikan harga aluminium dan nikel mendorong prospek kinerja emiten tambang, tetapi menjadi beban baru bagi industri manufaktur yang menghadapi kenaikan biaya produksi. Melansir data Trading Economics pada penutupan perdagangan hari Jumat (27/3), aluminium naik 0,81% menjadi US$ 3.275 per ton. Sementara itu, nikel menguat 0,29% ke level US$ 17.215 per ton. Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan kenaikan harga kedua logam tersebut menjadi katalis positif bagi margin laba bersih perusahaan tambang.
TAG: