Harga nikel jatuh tersengat data perdagangan China



JAKARTA. Perlambatan ekonomi di China terus menyeret harga komoditas, seperti nikel. Mengutip Bloomberg pada Senin (8/6) pukul 1.03 am,  harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan ke depan di London Metal Exchange tercatat turun 0,45% ke level US$ 13.115 per metrik ton. Dalam sepekan terakhir harga nikel masih melambung 1%. Pada Mei 2015, data ekspor China menunjukkan penurunan 2,8%. Sedangkan impor China juga turun 18,1%. Sedangkah neraca perdagangan atau trade balance China tercatat surplus US$ 59,1 miliar. Ibrahim, Analis dan Direktur PT Komoditi Ekuilibrium Berjangka menjelaskan, buruknya data ekspor dan impor China menjadi salah satu penekan utama jatuhnya harga nikel. Data ini menjadi bukti bahwa permintaan China untuk nikel belum kunjung membaik.

Merosotnya permintaan ditunjukkan dari stok nikel di LME yang telah terbang sebanyak 65% dalam setahun terakhir menjadi 469.488 metrik ton. China merupakan salah satu konsumen nikel terbesar dunia, dengan begitu maka prospek harga nikel diduga masih akan terus bergerak di level bawah. “Keadaan ekonomi China masih lesu sehingga memilih mengeksplorasi sumber daya dalam negeri untuk kebutuhannya,” papar Ibrahim.

Ekonomi yang masih lesu juga menjadi bukti stimulus yang dilakukan China belum berpengaruh pada perekonomian. Selain data ekspor dan impor, pasar nikel juga akan terpengaruh data properti China.


Pada April 2015 tercatat data properti China melambat. Berkaca dari data ekspor dan impor, maka diduga perlambatan penjualan properti juga akan terjadi di seluruh kota di China. “Belum ada harapan bagi harga komoditas termasuk nikel untuk bangkit jika berkaca dari ekonomi China yang loyo,” tambah Ibrahim.

Bahkan Ibrahim menduga jika perekonomian China dan Eropa tidak segera membaik bukan tidak mungkin pada akhir tahun 2015 harga nikel bisa bertengger di level US$ 9.000 per metrik ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Uji Agung Santosa