Harga nikel koreksi sebelum naik lagi



JAKARTA. Reli harga nikel yang telah berlangsung sepekan akhirnya terhenti. Senin lalu (22/8), harga nikel tergerus bersamaan dengan komoditas tambang lainnya.

Mengutip Bloomberg, harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange turun 0,87% dibanding hari sebelumnya jadi US$ 10.265 per metrik ton. Tapi dalam sepekan, harga nikel masih menguat tipis 0,09%.

Direktur Utama Garuda Berjangka Ibrahim mengutarakan, harga nikel tergerus akibat spekulasi pasar mengenai kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS). "Isu kenaikan suku bunga ini menyebabkan harga komoditas turun, termasuk harga nikel," kata Ibrahim kepada KONTAN, Selasa (23/8).


Akan tetapi, pasokan nikel dunia dari Januari-Juni 2016 turun hampir 100.000 ton. Selain itu, Filipina sebagai negara penghasil nikel terbesar sedang memperbaiki lingkungan dengan menutup tambang nikel yang tidak memenuhi standar. Akibatnya, pasokan nikel pun berkurang. Hal ini berpotensi mengerek harga nikel ke depan.

Sekadar mengingatkan, saat Indonesia melarang ekspor bahan tambang mentah 2014 silam, harga nikel melonjak hingga 37%. Dengan demikian, masih ada sentimen positif yang bisa menopang harga nikel. Cuma, menurut Ibrahim, meski ada sentimen positif yang mendukung penguatan harga nikel, berbagai sentimen tadi masih kalah dengan isu kenaikan suku bunga AS. Karena transaksi nikel secara global menggunakan dollar AS. Karena itu, para pelaku pasar nikel masih menunggu pernyataan resmi The Fed yang akan dirilis pada Jumat (26/8) mengenai kenaikan suku bunga.

Ibrahim memprediksi, The Fed masih akan mempertahankan suku bunga pada kuartal ketiga ini, atau hingga September, mengingat data ekonomi AS masih belum memuaskan. "Ini dapat berimplikasi pada harga nikel di kuartal ketiga," ujar Ibrahim.

Ibrahim memaparkan, kenaikan harga nikel hanya akan bertahan selama kuartal ketiga ini. Sebab, menurut Ibrahim The Fed bisa jadi akan menaikkan suku bunga acuan di akhir tahun. Secara teknikal, Ibrahim melihat ada potensi kenaikan harga nikel. Indikator bollinger band dan MA 40% berada di bawah indikator bollinger bawah, menunjukkan potensi pelemahan.

Sebaliknya, indikator moving average convergence divergence (MACD) berada di area positif. Sedang stochastic sedang wait and see. Relative strength index (RSI) berada pada area positif 60%. Rabu (24/8), Ibrahim memprediksi harga nikel akan berada pada kisaran US$ 10.275–US$ 10.290 per metrik ton. Sepekan ke depan, harga nikel akan bergerak di kisaran US$ 10.210–US$ 10.300.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie