Harga Nikel Masih Solid, Ini Saham yang Masih Menarik Dicermati Menurut Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Solidnya harga nikel diyakini akan berdampak positif terhadap kinerja emiten nikel seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). 

Menurut Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas Robertus Yanuar Hardy, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) emiten nikel akan naik dari tahun lalu.

Di sisi lain, harga batubara yang menjadi bahan bakar emiten nikel juga masih cukup tinggi. Hanya saja, Robertus menyebut kenaikan harga nikel masih lebih tinggi dari kenaikan harga batubara dan bahan bakar minyak. 


Dengan kata lain, kenaikan harga batubara ini bisa ditutupi oleh kenaikan harga jual rata-rata nikel.

Robertus menilai, ke depan harga nikel masih akan bertahan di level tertingginya. Prospek nikel dipoles oleh penggunaannya yang semakin banyak dan permintaan yang masih meningkat. Di sisi lain, suplai akan semakin terbatas akibat disrupsi rantai pasokan global yang masih akan berlanjut akibat konflik geopolitik.

Baca Juga: Didukung Tambahan Kapasitas Produksi Pabrik Baru, Begini Rekomendasi Saham BRMS

“Harga nikel masih akan bertahan di kisaran US$ 25.000 – US$ 35.000,” terang Robertus kepada Kontan.co.id, Senin (25/4).

Dalam risetnya tertanggal 6 April 2022, Analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan mempertahankan rating overweight terhadap sector nikel. Sebab, sektor ini memiliki prospek jangka pendek yang cerah. 

BRI Danareksa Sekuritas menjadikan PT Harum Energy Tbk (HRUM) dan INCO sebagai pilihan utama atau top picks di sektor ini.

HRUM dinilai atraktif seiring pabrik peleburan nickel pig iron (NPI)-nya akan mulai berkontribusi terhadap laba bersih lebih awal dari target dan laba bersih HRUM berpotensi meningkat tiga kali lipat pada 2022.

Sementara INCO dinilai paling sensitif terhadap pergerakan harga nikel, sehingga INCO akan menjadi penerima manfaat utama dari lonjakan harga nikel.

Untuk HRUM, Hasan merekomendasikan beli dengan target harga Rp 15.000 dan merekomendasikan beli saham INCO dengan target harga Rp 8.500. Hasan juga merekomendasikan beli ANTM dengan target harga Rp 3.200 per saham.

Analis NH Korindo Sekuritas Arief Machrus dalam risetnya tertanggal 12 April 2022 mempertahankan rekomendasi beli saham ANTM dengan target harga di Rp 3.450. NH Korindo Sekuritas melihat sejumlah penggerak utama kinerja ANTM, seperti ASP dan volume penjualan yang relatif tetap tinggi, serta efisiensi bahan bakar dan pengiriman. 

“Di sisi lain, kami tetap mencermati fluktuasi nilai tukar rupiah dan harga minyak dunia, sebagai risiko utama,” tulis Arief.

Sementara itu, Robertus merekomendasikan beli saham INCO dengan target harga Rp 8.900 dan beli saham ANTM dengan target harga Rp 3.050.

Untuk INCO, Robertus memperkirakan produksi nikel matte INCO masih akan lebih rendah 5%-10%, seiring dengan pengerjaan pembangunan ulang furnace 4 yang diperkirakan rampung pada Mei 2022. “Namun harga jual (nikel) akan jauh lebih tinggi,” jelas Robertus.

Baca Juga: Harga Nikel Melonjak, Ifishdeco (IFSH) Cetak Pendapatan Rp 906,25 Miliar di 2021

Asal tahu, INCO melaporkan penurunan jumlah produksi nikel matte sepanjang kuartal pertama 2022. Konstituen Indeks Kompas100 ini memproduksi 13.827ton nikel dalam matte, menurun 9% secara year-on-year (yoy) dari produksi nikel matte pada periode yang sama tahun lalu sebesar 15.198 ton. 

Realisasi produksi pada kuartal pertama 2022 juga menurun 19% dari produksi pada kuartal keempat 2021 sebesar 17.015 ton.

Febriany Eddy, CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia menyebut, lebih rendahnya produksi pada triwulan pertama 2022 karena adanya pelaksanaan proyek pembangunan kembali tanur 4 yang merupakan proyek pemeliharaan penting. Proyek ini memastikan keamanan dan kelangsungan operasi INCO di masa depan.

“Kami tetap optimistis dan sejalan untuk mencapai rencana produksi penuh tahun 2022 kami,” kata Febriany dalam keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia, Selasa (19/4). 

Catatan Kontan.co.id, INCO mempertahankan rencana produksi 65.000 ton nikel dalam bentuk matte tahun ini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi