Harga Nikel Naik Tajam, FINI Bantah Efek Tunggal Pemangkasan Produksi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kenaikan harga nikel global belakangan ini semata-mata dipicu oleh wacana pembatasan produksi bijih nikel Indonesia melalui persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Ketua Umum FINI Arif Perdana mengatakan, pergerakan harga nikel dunia khususnya di Bursa Logam London (London Metal Exchange/LME) dipengaruhi oleh berbagai faktor global dan tidak hanya ditentukan oleh volume produksi Indonesia.

Menurut Arif, dinamika harga nikel turut dipengaruhi respons negara konsumen utama, kondisi geopolitik, persaingan teknologi, kebijakan industri global, hingga pertumbuhan ekonomi dunia.


Baca Juga: Pertamina Bakal Serap Proyek DME Hasil Hilirisasi Batubara

“Penurunan produksi nikel, baik di Indonesia maupun secara global, tidak selalu berbanding lurus dengan kenaikan harga nikel itu sendiri,” ujar Arif kepada Kontan.co.id, Minggu (11/1/2026).

Pernyataan FINI ini disampaikan di tengah tren penguatan harga nikel dunia. Berdasarkan data LME, harga nikel kontrak tiga bulan ditutup di level US$ 17.703 per ton pada perdagangan Jumat (9/1/2026).

Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam sekitar 15 bulan terakhir, setelah terakhir kali berada di kisaran serupa pada Oktober 2024.

Dalam sepekan terakhir, harga nikel bahkan sempat menyentuh US$ 18.800 per ton, yang merupakan level tertinggi dalam 19 bulan sejak Juni 2024.

Kenaikan ini terjadi seiring munculnya sinyal dari pemerintah Indonesia terkait rencana pemangkasan produksi nikel pada 2026 guna memperbaiki keseimbangan pasokan dan permintaan global.

Baca Juga: Pengusaha Menanti Keputusan Pemerintah Soal Kuota Produksi Nikel 2026

Indonesia saat ini menyumbang sekitar 70% dari total produksi nikel dunia, atau sekitar 3,8 juta metrik ton per tahun.

Dengan porsi tersebut, kebijakan produksi nikel nasional dinilai memiliki pengaruh signifikan terhadap pasar global.

Meski demikian, FINI menegaskan bahwa faktor domestik bukan satu-satunya penentu pergerakan harga.

Arif menilai, permintaan dari industri hilir terutama sektor baterai dan kendaraan Listrik masih berfluktuasi seiring perlambatan ekonomi global, sehingga turut memengaruhi harga nikel.

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum mengungkapkan secara rinci rencana kuota produksi nikel 2026 dalam RKAB. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan, produksi nikel ke depan akan disesuaikan dengan kebutuhan industri dalam negeri.

Baca Juga: Kejar Target 1,5 Juta Ton, Bulog Usulkan Pembelian Beras SPHP Bisa Lebih dari 2 Pack

Bahlil juga menegaskan pemerintah akan mendorong industri besar untuk menyerap bijih nikel dari pengusaha tambang domestik guna menghindari praktik monopoli.

Pemerintah, kata dia, ingin memastikan investor besar dan pengusaha daerah dapat tumbuh secara seimbang melalui kolaborasi yang sehat.

Sebelumnya, harga nikel sempat tertekan akibat melemahnya permintaan global. Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya penyerapan bijih nikel di dalam negeri, meskipun kapasitas produksi tambang nasional relatif besar.

Selanjutnya: Dipengaruhi Permintaan China, Simak Rekomendasi Saham Emiten Batubara Pilihan Analis

Menarik Dibaca: Fres & Natural Kolaborasi dengan Vilo Gelato, Tawarkan Wangi Baru untuk Anak Muda

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News