KONTAN.CO.ID - Harga nikel menguat ke level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan pada perdagangan Kamis (16/7/2026), didorong kekhawatiran terganggunya pasokan sulfur akibat gangguan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Mengutip
Reuters, kontrak nikel tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 1,8% menjadi US$ 17.110 per metrik ton pada pukul 09.00 GMT. Sebelumnya, harga sempat melonjak hingga 3,1% ke US$ 17.330 per ton, level tertinggi sejak 23 Juni.
Baca Juga: AS Mulai Serangan Tarif Baru, Kenakan Bea Masuk 25% untuk Mayoritas Impor dari Brasil Analis Jinrui Futures dalam risetnya menyebut kembali meningkatnya ekspektasi pengetatan pasokan sulfur mendorong kenaikan biaya produksi nikel, khususnya melalui proses High Pressure Acid Leach (HPAL) yang digunakan untuk mengekstraksi nikel dari bijih laterit. "Ketatnya pasokan sulfur kembali menjadi perhatian. Bagi industri nikel, kondisi ini terutama berarti meningkatnya ekspektasi biaya untuk proses pelindian asam bertekanan tinggi (HPAL)," tulis Jinrui Futures. Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar di dunia, bergantung pada pasokan sulfur dari Timur Tengah untuk memproduksi asam sulfat yang digunakan dalam proses HPAL. Sekitar 75% kebutuhan sulfur Indonesia dipenuhi dari kawasan tersebut. Namun, blokade di Selat Hormuz yang dilakukan Amerika Serikat dan Iran telah mengganggu pengiriman sulfur dari Timur Tengah.
Baca Juga: Selebrasi Pemain Timnas Argentina Setelah Tundukkan Inggris Berujung Kontroversi Analis Macquarie Jim Lennon mengatakan, lonjakan harga sulfur telah meningkatkan biaya produksi nikel HPAL secara signifikan. "Produsen HPAL di Indonesia sebelumnya berada di posisi biaya produksi terendah. Kini mereka justru berada di kelompok dengan biaya tertinggi," ujar Lennon dalam sebuah webinar pekan ini. Menurutnya, lonjakan harga sulfur telah menambah biaya produksi sekitar US$ 10.000 per ton. Selain itu, pemerintah Indonesia juga disebut tengah mempertimbangkan pembatasan alokasi bijih nikel bagi produsen HPAL. Pasar kini menunggu hasil evaluasi permohonan tambahan pasokan bijih yang diajukan pada pertengahan tahun.
Baca Juga: Final Piala Dunia Jadi Panggung Adidas, Nike Gagal Tempatkan Tim pada Laga Puncak Logam dasar lain ikut menguat Kenaikan juga terjadi pada logam dasar lainnya di LME.
Harga tembaga naik tipis 0,1% menjadi US$ 13.599 per ton, didukung data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan sehingga memperkuat harapan bahwa Federal Reserve akan mengambil sikap yang lebih dovish terhadap suku bunga. Tembaga juga mendapat dukungan dari berkurangnya stok di gudang LME. Data bursa menunjukkan adanya pembatalan waran untuk 18.150 ton tembaga, yang mengindikasikan logam tersebut akan segera ditarik dari gudang.
Baca Juga: Iran Sebut Selat Hormuz Garis Merah, Ancam Serang Kawasan Jika AS Menyerang Sementara itu, harga aluminium naik 0,9% menjadi US$ 3.178 per ton, seng menguat 0,9% menjadi US$ 3.579 per ton, timbal naik 1,1% menjadi US$ 1.871,50 per ton setelah sehari sebelumnya menyentuh level terendah dalam 15 bulan, dan timah menguat 1,3% menjadi US$ 53.305 per ton.