KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren penurunan harga nikel di pasar global berpotensi menekan kinerja emiten produsen logam tersebut pada tahun ini. Namun, peluang memperbaiki kinerja masih terbuka seiring rencana pemerintah merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang memungkinkan peningkatan volume produksi.
Baca Juga: Harga Emas hingga Bitcoin Kompak Anjlok, Ini Penyebabnya Mengutip
Trading Economics, harga nikel dunia turun 11,04% dalam sebulan terakhir menjadi US$ 16.805 per ton per Jumat (26/6). Level tersebut mendekati titik terendah sejak akhir Desember 2025 dan terjadi di tengah rencana Indonesia meningkatkan produksi nikel nasional. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengisyaratkan revisi RKAB nikel dari sebelumnya 260 juta ton menjadi 360 juta ton pada 2026. Proses revisi dijadwalkan dimulai pada awal Juli. Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai harga nikel yang kembali berada di bawah US$ 17.000 per ton akan menekan margin laba emiten, terutama perusahaan dengan biaya produksi yang tinggi. Kondisi tersebut membuat kinerja emiten nikel pada 2026 diperkirakan lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Senin (29/6) Besok Meski demikian, revisi RKAB berpotensi menjadi penyeimbang. Emiten yang selama ini terkendala kuota produksi dapat mengompensasi penurunan harga melalui peningkatan volume penjualan. "Strategi volume over margin menjadi relevan di era harga nikel yang lebih rendah namun RKAB lebih longgar," ujar Abida, Jumat (26/6/2026). Senada, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan harga nikel masih sulit keluar dari tekanan karena kelebihan pasokan global belum teratasi, sementara permintaan kendaraan listrik tumbuh lebih lambat dari ekspektasi. Menurutnya, revisi RKAB memang akan mendorong kenaikan produksi domestik. Namun, jika seluruh produsen meningkatkan output secara bersamaan, kondisi
oversupply di pasar global justru dapat semakin memburuk.
Baca Juga: BUMN Karya Ada Surat Utang Jatuh Tempo di 2026, Potensi Gagal Bayar? "Jika seluruh emiten mengerek produksi secara bersamaan, maka masalah kelebihan pasokan nikel dalam skala global akan makin parah," katanya. Karena itu, Wafi memproyeksikan prospek sektor nikel pada semester II-2026 cenderung netral. Sentimen positif masih datang dari relaksasi RKAB dan potensi pemulihan permintaan kendaraan listrik berbasis baterai. Sementara itu, Abida menilai prospek industri nikel dalam jangka menengah tetap menarik, meski laju pertumbuhan kinerja diperkirakan lebih moderat. Ia mengingatkan masih ada sejumlah risiko yang membayangi sektor ini, seperti kelebihan pasokan global, perlambatan pasar kendaraan listrik di China, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya energi. "Emiten nikel yang dapat bertahan adalah mereka yang memiliki cash cost rendah, RKAB besar, dan integrasi vertikal ke produk hilir bermargin tinggi," tuturnya.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Emiten Eksportir Berpotensi Cuan, Cek Saham Pilihan Analis Pengamat pasar modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia Raden Bagus Bima, juga menilai prospek sektor nikel masih positif sejalan dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku industri baterai kendaraan listrik dan berlanjutnya program hilirisasi nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa fluktuasi harga komoditas dan kelebihan pasokan global tetap menjadi tantangan utama. Emiten yang memiliki biaya produksi rendah, cadangan besar, serta bisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir dinilai memiliki peluang lebih besar mencatatkan pertumbuhan kinerja. Dalam kondisi saat ini, perusahaan nikel juga perlu memperkuat efisiensi operasional, mengendalikan biaya produksi, serta meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi. "Optimalisasi produksi juga dapat dilakukan secara selektif, meski ini perlu waktu perbaikan," ujarnya.
Baca Juga: Jalur Transportasi Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Mentah Diproyeksi Turun Rekomendasi Saham Dari sisi investasi, Raden menjagokan saham PT Aneka Tambang Tbk (
ANTM) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (
MBMA) karena didukung fundamental yang kuat serta progres hilirisasi yang dinilai positif.
Menurutnya, kedua emiten tersebut berpotensi lebih defensif dibandingkan perusahaan yang hanya mengandalkan penjualan bijih nikel. Abida juga merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga Rp 4.800 per saham. Ia menilai ANTM akan diuntungkan dari revisi RKAB, sekaligus memiliki bantalan profitabilitas dari bisnis emas. Sementara itu, Wafi merekomendasikan saham PT Vale Indonesia Tbk (
INCO), ANTM, dan MBMA dengan target harga masing-masing Rp 6.500 per saham, Rp 5.000 per saham, dan Rp 600 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News