Harga Nikel Tertekan, Intip Rekomendasi Saham Vale Indonesia (INCO)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah normalisasi harga nikel, kinerja positif PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masih akan berlanjut.

Analis Aldiracita Sekuritas Timothy Gracianov mengatakan untuk tahun ini, produksi INCO tahun ini diperkirakan mencapai 70.351 ton dalam nikel matte. Angka itu naik 17% secara tahunan (YoY).

Dengan pertumbuhan produksi, diperkirakan mampu menahan pelemahan harga nikel. Melansir Trading Economics, harga nikel tercatat turun 2,09% ke US$ 19.673/ton dan sejak awal tahun (Ytd) telah turun 18,81%.


Timothy menilai, dengan perkiraan pertumbuhan volume penjualan nikel matte dan biaya produksi yang lebih rendah karena menurunnya harga batubara sebagai bahan bakar smelter perusahaan, INCO mampu mempertahankan tren pertumbuhan kinerjanya.

Meskipun memang, tertahannya rata-rata harga penjualan (ASP) nikel yang lebih rendah menahan pertumbuhan kinerja secara optimal. Dia mengelaborasi, jika melakukan uji sensitivitas maka naik turunnya harga nikel LME sebesar US$1.000/ton mengakibatkan proyeksi EBITDA 2023 miliknya kurang lebih 9,2%.

Baca Juga: Vale (INCO) Temukan 2.500 Ha Lahan Dibuka Tanpa Izin untuk Kebun Lada

"Kami melihat pertumbuhan EBITDA sebesar 29% YoY menjadi US$ 564 juta," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (18/9).

Sementara untuk pendapatan dan laba bersih juga diperkirakan akan bertumbuh double digit. Aldiracita Sekuritas memproyeksikan INCO mencetak pertumbuhan pendapatan 7% dan laba bersih 49% YoY.

Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan juga sepakat bahwa tren positif kinerja INCO masih akan berlanjut. Ini didorong dari pulihnya produksi perseroan usai menyelesaikan restorasi tungku 4.

Selain itu ia juga memproyeksikan harga LME Nikel akan tetap relatif stabil di US$22.000/ton untuk sisa tahun ini. Perkiraan tersebut didorong oleh permintaan yang lebih tinggi dari pembukaan kembali pabrik-pabrik di China dan permintaan baterai yang lebih tinggi.

"INCO juga diuntungkan oleh harga nikel matte yang relatif stabil," tambahnya.

Namun memang, untuk ASP INCO akan melemah di tahun ini yang diperkirakan berada di US$ 18.525/ton atau turun 6% YoY. Namun, dengan selesainya restorasi tungku 4 maka volume penjualan INCO tahun inii mencapai 68.000 ton atau tumbuh 12% YoY.

 
INCO Chart by TradingView

Dengan begitu, Andreas memproyeksikan pendapatan INCO mencapai US$ 1,22 miliar atau tumbuh 4,27% YoY. Sementara untuk laba bersih diprediksi melesat 45% menjadi US$ 291 juta.

"Harga batubara telah menurun lebih dalam atau 65% Ytd yang kemungkinan akan mendukung laba bersih INCO," paparnya.

Di sisi lain, INCO juga tengah bersiap mengeksekusi semua program investasi yang telah mendapatkan persetujuan pemegang saham di Blok Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako.

Berdasar catatan Kontan.co.id, INCO sedang menggarap tiga proyek jumbo dengan total investasi senilai US$ 9 miliar. Ketiga proyek itu ialah Sorowako Limonite senilai US$ 2 miliar, Smelter Bahodopi US$ 2,5 miliar, dan Smelter Pomalaa US$ 4,5 miliar.

Timothy menilai kontribusi hasil investasi tersebut akan tergantung pada porsi kepemilikan. Menurutnya, pembagian kepemilikan untuk masing-masing bisnis proyek akan bermain peran signifikan dalam menentukan besaran porsi laba yang akan didapatkan. Sayangnya, INCO belum mempublikasikan porsinya dalam rencana investasi tersebut.

Yang jelas, ia menilai kontribusinya tidak akan secara langsung lantaran target selesainya proyek tersebut juga masih cukup lama. Misalnya Proyek Morowali yakni Juni 2027 dan Pomalaa Maret 2026.

Baca Juga: Vale Indonesia (INCO) Klaim Sudah Setor Dividen Dua Kali ke MIND ID

Dengan prospek saat ini, Aldiracita Sekuritas merekomendasikan buy INCO dengan taret harga Rp 7.000. Menurut Timothy, risiko terbesar terlihat pada prospek harga nikel yang mengalami penurunan dibandinkan tahun lalu karena suplai melimpah dari Indonesia.

"Terkait divestasi saham perseroan kepada pemerintah Indonesia tidak mengakibatkan perubahan signifikan terhadap kinerja fundamental perseroan karena estimasi harga eksekusi sesuai harga pasar," katanya.

Adapun Sucor Sekuritas juga merekomendasikan buy INCO dengan target harga yang direvisi menjadi Rp 7.700 per saham. Revisi tersebut lantaran pihaknya mengubah metode penilaiannya dari EV/EBITDA menjadi DCF.

"Dengan pertumbuhan kapasitas, kami memperkirakan perusahaan akan menghasilkan arus kas bebas yang didiskontokan rata-rata sebesar US$ 132 juta dalam 10 tahun ke depan, dengan asumsi harga nikel jangka panjang turun menjadi rata-rata 5 tahun sebesar US$ 17.500 per ton. Kami memperoleh NPV sebesar US$2,6 miliar dan US$ 1,3 miliar untuk operasi saat ini dan proyek-proyek di masa depan," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari