Harga Nikel Turun, Begini Kata Merdeka Battery (MBMA)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga nikel tercatat masih turun, meskipun mulai naik dalam sebulan terakhir.

Melansir Trading Economics, Rabu (13/3), harga nikel turun 20,07% secara tahunan. Namun, harga nikel sudah naik 14,49% dalam sebulan terakhir ke US$ 18.325 per ton.

Hal ini pun menjadi perhatian sejumlah emiten nikel. Salah satunya adalah PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), anak usaha dari PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).


GM Corporate Communication MDKA Tom Malik mengatakan, MBMA adalah price taker, karena harga komiditi nikel tergantung supply-demand global. Namun, MBMA tidak hanya mengoperasikan tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM).

“Perseroan juga melakukan proses hilirisasi, seperti tiga fasilitas Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF), satu Nickel Matte Converter, dan dalam waktu dekat proyek high-pressure acid leach (HPAL),” ujar dia kepada Kontan.co.id, Rabu (13/3).

Baca Juga: Harga Nikel Masih Lemah, Cek Rekomendasi Sejumlah Emiten Nikel Berikut Ini

Tom menjelaskan, aset MBMA saat ini terdiri dari tambang nikel terbesar di Indonesia serta fasilitas pemurnian nikel merupakan bukti komitmen perusahaan terhadap kebijakan hilirisasi pemerintah.

Tambang Nikel SCM mulai produksi penuh di tahun 2024 dengan target produksi bijih Saprolite sebanyak 4 juta ton dan bijih Limonit sebanyak 11 juta ton.

“Saprolit akan menyuplai aset MBMA di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dengan target produksi NPI (Nickel Pig Iron) antara 85.000 ton–92.000 ton dan Nickel Matte antara 50.000 ton–55.000 ton,” ungkapnya.

Baca Juga: Merdeka Battery Materials (MBMA) Naikkan Produksi Nikel Tahun Ini

Di sisi lain, proyek acid iron metal (AIM)/PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) yang memproduksi Asam Sulfat akan mulai produksi bulan Maret 2023 untuk menyuplai pabrik-pabrik di IMIP.

Sementara, proyek HPAL bermitra dengan GEM Co.Ltd. di IMIP ditargetkan commissioning di akhir tahun 2024 dengan kapasitas 20.000 ton per tahun.

“Pada pertengahan tahun 2025, ditargetkan bertambah menjadi 30.000 ton per tahun,” paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati