Harga Pabrik China Berbalik Naik pada Maret, Dampak Perang Iran Picu Tekanan Inflasi



KONTAN.CO.ID - Harga di tingkat pabrik di China kembali mencatat inflasi untuk pertama kalinya dalam lebih dari 3,5 tahun pada Maret 2026.

Kenaikan ini menjadi sinyal awal bahwa konflik di Timur Tengah mulai menekan biaya produksi di negara tersebut.

Melansir Reuters Jumat (10/4/2026), data dari National Bureau of Statistics menunjukkan indeks harga produsen (PPI) naik 0,5% secara tahunan, mengakhiri tren penurunan selama 41 bulan. Angka ini juga lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,4%.


Baca Juga: Bursa Korsel Naik Jumat (10/4), Berpeluang Catat Kinerja Mingguan Terbaik Sejak 2008

Kenaikan harga produsen terutama didorong oleh sektor-sektor intensif energi. Industri pertambangan logam non-ferrous melonjak 36,4%, sementara sektor peleburan dan pengolahan logam non-ferrous naik 22,4%.

Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga energi, khususnya minyak, akibat konflik geopolitik.

Para ekonom menilai inflasi yang didorong oleh kenaikan biaya, bukan permintaan berpotensi menjadi tantangan bagi pembuat kebijakan.

Kondisi ini dapat menekan margin perusahaan, investasi, serta perekrutan tenaga kerja, terutama jika pelaku usaha tidak mampu meneruskan kenaikan biaya ke konsumen.

Baca Juga: Bursa Australia Turun Jumat (10/4), Saham Tambang Tertekan Jelang Perundingan Timteng

Sementara itu, inflasi konsumen relatif lebih moderat. Indeks harga konsumen (CPI) naik 1% secara tahunan pada Maret, melambat dari 1,3% pada Februari dan di bawah ekspektasi 1,2%.

Secara bulanan, CPI justru turun 0,7%, lebih dalam dari perkiraan penurunan 0,2%, setelah sebelumnya naik 1% pada Februari.

Tekanan inflasi yang bersifat “impor” ini muncul di saat ekonomi domestik China masih rapuh dan menghadapi pelemahan permintaan eksternal.

Penjualan mobil domestik, misalnya, turun untuk bulan keenam berturut-turut pada Maret.

Kenaikan harga bahan bakar menekan permintaan kendaraan berbahan bakar bensin, sementara penjualan kendaraan listrik masih terdampak pengurangan insentif.

Kondisi ini menempatkan pembuat kebijakan dalam dilema. Di satu sisi, bank sentral memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan guna mendukung pertumbuhan.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Menuju Kenaikan Mingguan Ketiga pada Jumat (10/4/2026)

Namun di sisi lain, kenaikan inflasi utama dapat membatasi agresivitas stimulus jika tekanan harga meluas ke sektor lain.

Sebagai catatan, inflasi inti (core CPI) yang tidak memasukkan harga pangan dan energi tumbuh 1,1% secara tahunan, turun dari 1,8% pada Februari.

Untuk meredam dampak lonjakan harga minyak global, pemerintah China juga telah membatasi kenaikan harga bahan bakar domestik guna menjaga daya beli masyarakat.