Harga Pakan Ayam Naik, Kementan: 25%-30% Bahan Baku Masih Impor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga bahan baku pakan ayam mengalami kenaikan seiring terbatasnya pasokan sejumlah komoditas. 

Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut sekitar 25%-30% bahan baku pakan ayam masih bergantung pada impor.

Direktur Hilirisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Makmun, mengatakan kenaikan harga terjadi pada bahan baku pakan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun impor. Salah satu komponen yang mengalami kenaikan adalah jagung.


Baca Juga: Permintaan Batubara Diproyeksi Naik pada Kuartal IV-2026, Harga Cenderung Menguat

Saat ini, harga jagung telah berada di atas Rp7.000 per kilogram. Menurut Makmun, kenaikan tersebut dipengaruhi oleh kondisi pasokan menjelang akhir tahun.

“Memasuki akhir tahun, beberapa daerah seperti NTB, Gorontalo, NTT itu tidak panen jagung. Sehingga stoknya mulai berkurang,” ujar Makmun dalam rapat inflasi koordinasi pengendalian inflasi daerah tahun 2026, dipantau secara daring melalui akun YouTube Kemendagri RI, Senin (5/10/2026). 

Jagung menjadi komponen terbesar dalam pakan ayam. Untuk pakan ayam broiler, komposisi jagung mencapai sekitar 45%. Selain itu, pakan juga menggunakan dedak atau bekatul sekitar 5% dan palm kernel meal sekitar 5%.

Sementara itu, soybean meal (SBM) memiliki porsi sekitar 25% dalam pakan broiler. Bahan baku tersebut masih bergantung pada pasokan impor. “Kurang lebih 25%-30% komponen pakan kita masih impor,” jelas Makmun.

Makmun menjelaskan, selain SBM, sejumlah bahan baku lain seperti meat bone meal (MBM) juga masih menggunakan pasokan dari luar negeri. 

Ketergantungan tersebut menjadi tantangan dalam menjaga biaya produksi pakan ketika harga bahan baku mengalami kenaikan.

Makmun menjelaskan untuk mengurangi ketergantungan impor, Kementan mendorong pengembangan bahan baku alternatif.

Kementan menyebut BRIN bersama sejumlah perguruan tinggi tengah melakukan penelitian untuk mencari bahan substitusi SBM berbasis turunan CPO.

Namun, pemanfaatan bahan alternatif tersebut masih menghadapi kendala. Bagian keras dari bahan tersebut dinilai sulit dicerna ayam sehingga penggunaannya masih terbatas.

Lebih lanjut, kata Makmun, penggunaan bahan alternatif tersebut saat ini baru sekitar 5%. Jika dapat ditingkatkan hingga lebih dari 10%, bahan tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan impor SBM.

Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku pakan turut meningkatkan biaya produksi peternakan ayam. Makmun mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus mendorong pengembangan sumber bahan pakan dari dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News