Harga Pakan Naik, Peternak Wanti-wanti Kelangkaan Stok Telur dan Daging Ayam



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga pakan unggas yang disebabkan oleh tertekannya produksi jagung lokal di tahun 2023 terus berlanjut hingga awal tahun 2024. Fenomena ini ternyata telah memberikan dampak pada para anggota Asosiasi Peternak Layer Nasional. 

Untuk diketahui, peternak layer adalah para peternak yang membudidayakan ayam petelur kemudian menjual telur dari ayam tersebut sebagai hasil produksi utama. 

Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional, Musbar Mesdi mengatakan kenaikan harga pakan unggas akan sangat berdampak pada para peternak layer terutama yang dari sisi modal sudah susut. 


Baca Juga: Harga Pakan Melambung, Gopan Khawatir Stok Daging Ayam Terganggu

“Mereka biasanya akan lakukan afkir ayam produksi, tujuannya agar modal yang tertanam di investasi bisa balik kembali dan dijadikan tabungan untuk menyambung usaha ke depan,” ujarnya saat dihubungi Kontan, Kamis (25/01).

Ia menambahkan, kenaikan harga pakan berpengaruh pada landed cost per kg telur. Landed cost ini adalah biaya-biaya yang timbul mulai dari proses pembelian hingga telur tiba di tempat konsumen. 

 “Akan tetapi peternak tidak dapat serta merta menaikkan harga jual ke masyarakat karena semua tergantung pada kemampuan daya beli masyarakat. Apalagi saat ini menurut data Bank Indonesia (BI) terjadi penurunan daya beli masyarakat menengah bawah, turunnya juga sampai 73% salah satunya karena derasnya PHK di banyak perusahaan saat ini,” jelas Musbar. 

Selain masalah harga pakan yang naik dan harga yang kurang bersahabat. Para peternak juga berkejaran dengan Hari Besar Keagamaan Negara (HBKN) yaitu bulan Ramadan dan Idul Fitri. 

Baca Juga: Memangkas Ayam Agar Kinerja Bisa Berkokok

“Pemerintah bila tidak bijak memberikan solusi dari masalah ini maka waspadalah, HKBN yang tinggal 2 bulanan lagi ini, kita akan kekurangan daging dan telur ayam,” tuturnya. 

Ia juga mewanti-wanti jika kelangkaan terhadap daging ayam dan telur terjadi jelang HKBN, ditakutkan akan ada oknum-oknum yang memanfaatkan situasi ini untuk mengimpor daging dan telur ayam. 

“Dampak regulasi yang tidak tepat akan berdampaknya pada ketersediaan pangan bagi masyarakat Indonesia. Kalau sampai terjadi kelangkaan (daging dan telur), maka mafia impor akan senang karena terbuka lagi peluang bisnis ketersediaan pangan berbasis unggas ini,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .