Harga pangan akan menyulut inflasi di Oktober



JAKARTA. Harga pangan kembali mengalami kenaikan di bulan Oktober. Kondisi ini diprediksi akan menyulut inflasi Oktober 2013. Dalam hitungan Bank Indonesia, Inflasi Oktober mencapai 0,06%.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan di pasar di seluruh tanah air menunjukkan dari 21 jenis pangan masih ada 10 harga pangan yang mengalami kenaikan harga pada sepanjang Oktober 2013 (lihat tabel). Lonjakan harga tertinggi pada cabai merah keriting.

Pantauan harga Kementerian Perdagangan ini klop dengan potret survei yang dilakukan oleh BI. Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo bilang, beberapa bahan pangan yang mengalami kenaikan harga dan menyumbang inflasi Oktober 2013 diantaranya harga daging sapi, yang naik cukup tinggi menjelang perayaan hari raya Idul Adha.


Perry mengaku tidak kaget jika Oktober kembali terjadi inflasi. Meskipun seperti kita tahu, pada September 2003 lalu terjadi penurunan harga atawa deflasi sebesar 0,35%. Berdasarkan catatan BI, inflasi bulanan pada Oktober 2013 ini bakal mencapai angka terendah sejak 2007. "Rata-rata inflasi bulan Oktober sejak 2007 itu sebesar 0,26%," kata Perry (24/10).

Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih sepakat bahwa bulan Oktober akan mengalami inflasi. Selain kenaikan beberapa bahan pangan seperti daging sapi, kenaikan tarif dasar listrik di awal bulan juga berpengaruh besar. "Kenaikan tarif tol pun membuat tarif transportasi naik," katanya.

Lana memprediksi inflasi Oktober hanya di kisaran 0,05%. Karena itu, inflasi akhir tahun tidak akan mencapai 9%. "Saya kira inflasi akhir tahun bisa 8,5%," ujarnya.

Dalam hitungan Lana, November bakal terjadi deflasi mengingat kenaikan tarif listrik dan tarif tol yang sudah terjadi pada Oktober.

Walaupun inflasi Oktober rendah, BI tidak mengubah proyeksi inflasi 2013 sebesar 9%-9,8%. "Sampai akhir tahun kami masih lihat inflasi akan mengarah ke kisaran bawah (9%)," jelas Perry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News