KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga pangan di pasar domestik masih berfluktuasi pada Kamis (26/3/2026). Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) yang dikelola Bank Indonesia per pukul 10.05 WIB menunjukkan kenaikan harga pada sejumlah komoditas, terutama cabai dan telur ayam ras, sementara beberapa komoditas lain seperti daging ayam dan gula premium justru mengalami penurunan. Harga cabai rawit hijau melonjak 9,24% menjadi Rp61.500 per kilogram. Sebaliknya, cabai rawit merah turun 8,72% menjadi Rp96.850 per kilogram.
Baca Juga: Upaya Kemenkeu Ambil Alih PNM dari BRI Dinilai Sebuah Kemunduran Tata Kelola Dari kelompok pangan pokok, harga beras bergerak variatif. Beras kualitas bawah I naik 0,34% menjadi Rp14.850 per kilogram, sementara kualitas bawah II turun 1,32% menjadi Rp14.950 per kilogram. Beras medium I turun 0,61% menjadi Rp16.200 per kilogram, sedangkan medium II naik 3,48% menjadi Rp16.350 per kilogram. Untuk beras premium, super I naik 1,17% menjadi Rp17.350 per kilogram dan super II naik 2,1% menjadi Rp17.000 per kilogram. Pada komoditas protein, harga telur ayam ras naik 2,72% menjadi Rp33.950 per kilogram. Sementara itu, daging ayam ras segar turun 7,08% menjadi Rp44.600 per kilogram. Daging sapi kualitas I dan II juga masing-masing turun 0,6% dan 0,79%. Harga minyak goreng curah tercatat turun 1,24%, namun minyak goreng kemasan justru naik hingga 3,43%. Adapun gula pasir premium turun 2,17%, sedangkan gula lokal naik tipis 0,26%. Pengamat pertanian sekaligus Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Hani Perwitasari, menilai fluktuasi harga ini tidak lepas dari pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.000 per dolar AS pada pertengahan Maret, serta tekanan global. “Besarnya dampak juga tergantung pada ketersediaan pasokan domestik. Komoditas dengan pasokan cukup cenderung lebih stabil, sementara keterbatasan pasokan memperbesar risiko kenaikan harga di tingkat konsumen,” ujar Hani dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (26/3/2026). Menurutnya, tekanan global seperti konflik geopolitik, gangguan logistik, dan kenaikan biaya energi turut mendorong kenaikan biaya impor komoditas strategis, termasuk kedelai, gandum, dan bawang putih, serta input produksi pertanian dan peternakan. Ia menambahkan, komoditas yang sulit disubstitusi seperti daging, telur, dan susu menjadi yang paling rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.
Baca Juga: Selain WFH Sehari Seminggu, Ini Kebijakan yang Perlu Disiapkan Demi Penghematan BBM “Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” jelasnya. Di sisi lain, pemerintah menilai kondisi ini masih dapat dikendalikan melalui penguatan ketahanan pangan nasional. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut Indonesia berada pada jalur yang tepat menuju kemandirian pangan di tengah ancaman krisis global. “Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Oleh karena itu, setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” kata Amran dalam keterangannya, Senin (23/3/2026). Strategi pemerintah mencakup intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, modernisasi, optimalisasi lahan, serta penguatan kebijakan harga untuk menjaga stabilitas pasokan domestik.
Laporan
World Food Programme (WFP) juga memperingatkan bahwa eskalasi konflik global berpotensi menambah hampir 45 juta orang mengalami kelaparan akut pada 2026. WFP menyoroti kenaikan harga energi, gangguan logistik, dan ketidakstabilan pasokan sebagai faktor utama yang dapat memicu inflasi pangan global, terutama bagi negara yang bergantung pada impor. Pemerintah pun menempuh strategi jangka pendek melalui pengendalian harga dan pemantauan pasokan, serta jangka panjang lewat peningkatan kapasitas produksi nasional guna menjaga stabilitas harga di pasar domestik. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News