Harga Pangan dan Emas Naik, Inflasi Agustus Diprediksi 3,31%



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi pada Agustus 2026 diperkirakan kembali meningkat seiring kenaikan harga sejumlah bahan pokok dan komoditas emas.

Tekanan inflasi juga berpotensi berlanjut apabila harga minyak tetap tinggi dan kondisi cuaca terganggu akibat fenomena El Nino.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual memperkirakan, inflasi Agustus 2026 mencapai 3,31% secara tahunan (year on year/YoY) dan 0,33% secara bulanan (month to month/MTM).


Baca Juga: CORE Ingatkan Risiko Tumpang Tindih dalam Pembentukan BLU Energi

Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi pada Juli 2026 yang tercatat sebesar 2,88% YoY dan 0,14% MTM.

Sementara itu, inflasi inti diperkirakan mencapai 2,98% YoY atau 0,27% MTM. Angka tersebut juga meningkat dibandingkan inflasi inti Juli 2026 yang sebesar 2,76% YoY dan 0,14% MTM.

David mengatakan, kenaikan inflasi Agustus terutama didorong oleh peningkatan harga sejumlah bahan pokok. Komoditas pangan, khususnya daging ayam dan cabai, menjadi salah satu sumber tekanan harga pada bulan ini.

"Inflasi didorong oleh kenaikan harga bahan pokok, terutama daging ayam dan cabai," ujar David kepada Kontan, Minggu (30/8/2026).

Selain komponen pangan, tekanan inflasi juga berasal dari kelompok inflasi inti. David melihat kenaikan harga terjadi pada sejumlah kelompok barang, termasuk komoditas emas yang kembali menjadi salah satu faktor pendorong.

Menurut dia, perkembangan harga emas turut memberikan kontribusi terhadap inflasi inti seiring tingginya harga komoditas tersebut.

Ke depan, David menilai, risiko inflasi masih perlu diwaspadai. Salah satu sumber tekanan berasal dari tingginya harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi di berbagai sektor.

Baca Juga: Aturan Baru DHE SDA: Eksportir Tambang Bisa Parkir 30% Selama 3 Bulan, Cek Syaratnya

Selain harga energi, kondisi cuaca juga menjadi risiko bagi perkembangan inflasi. Kekeringan akibat fenomena El Nino berpotensi mengganggu produksi sejumlah komoditas pangan.

Jika gangguan produksi tersebut berlanjut, pasokan pangan dapat menurun dan mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen. Kondisi ini berpotensi menjaga tekanan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News