KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas harga pangan nasional bergerak turun pada akhir pekan ini. Data panel harga konsumen Badan Pangan Nasional per 22 Februari 2026 pukul 13.00 WIB menunjukkan koreksi terjadi pada beras, hortikultura, hingga sejumlah komoditas protein hewani. Namun, harga daging sapi dan kerbau lokal masih merangkak naik. Harga beras premium turun 0,53% menjadi Rp 15.509 per kg. Beras medium melemah 0,44% ke Rp 13.331 per kg, beras SPHP turun 0,33% ke Rp 12.404 per kg, dan beras medium non-SPHP turun 0,44% ke Rp 13.883 per kg. Beras khusus (lokal) justru naik tipis 0,37% ke Rp 15.855 per kg. Jagung tingkat peternak turun 1,48% menjadi Rp 6.739 per kg dan kedelai biji kering impor turun 0,25% ke Rp 10.870 per kg.
Baca Juga: Mendag Pastikan Harga Daging Ayam Saat Ramadan Terjaga meski Kini Masih di Atas HAP Kelompok hortikultura mencatat penurunan lebih dalam. Bawang merah turun 2,36% ke Rp 41.246 per kg dan bawang putih bonggol turun 2,09% ke Rp 38.350 per kg. Cabai merah keriting turun 1,67% ke Rp 46.716 per kg, cabai merah besar turun 1,75% ke Rp 43.614 per kg, dan cabai rawit merah turun 1,41% ke Rp 78.744 per kg. Harga daging ayam ras turun 0,79% menjadi Rp 40.996 per kg dan telur ayam ras turun 1,17% ke Rp 30.912 per kg. Daging kerbau beku impor juga turun 0,29% menjadi Rp 111.709 per kg. Sebaliknya, daging sapi murni naik 0,56% ke Rp 138.832 per kg dan daging kerbau segar lokal naik 0,39% menjadi Rp 142.424 per kg. Dewan Pembina Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran, mengatakan kenaikan harga daging sapi dipengaruhi faktor distribusi serta persoalan bibit (DOC) di tingkat peternak. Ia menyebut pedagang hanya mengikuti harga dari pemasok dan tidak memiliki ruang besar untuk menentukan margin. “Kami pedagang pasar tentu ikut bagaimana belinya saja. Beli naik, jual naik. Kalau beli turun, jual turun. Pedagang ambil laba standar,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (22/2/2026).
Baca Juga: Harga Daging Naik Jelang Ramadhan, Asosiasi & Pelaku Usaha Soroti Kisruh Kuota Impor Ngadiran juga mengungkapkan mahalnya daging sapi mulai memicu penyesuaian di tingkat produsen olahan. Sejumlah pembuat bakso dan abon disebut mulai mengombinasikan bahan baku dengan daging ayam untuk menekan biaya produksi. Ia pun mendorong pemerintah menugaskan satgas guna memastikan distribusi dan pasokan tetap terkendali. Sementara itu, Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef , Abdul Manap Pulungan, menilai tekanan inflasi pangan masih menjadi tantangan utama bagi daya beli masyarakat. “Sulit untuk mengangkat daya beli masyarakat karena inflasi masih tinggi, khususnya inflasi makanan,” katanya Ia menjelaskan tekanan harga terutama berasal dari bahan pangan pokok seperti beras dan komoditas lain yang menjadi kebutuhan harian. Menurutnya, kenaikan harga lebih dipicu penurunan pasokan di tengah meningkatnya permintaan, termasuk akibat momentum Ramadan dan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai stimulus tetap diperlukan untuk menjaga konsumsi kelompok berpendapatan rendah, tetapi sifatnya terbatas. Ke depan, pemerintah didorong fokus pada penciptaan lapangan kerja sebagai sumber peningkatan pendapatan dan daya beli yang lebih berkelanjutan. Dengan tren harga yang sebagian besar turun, ruang stabilisasi inflasi memang terbuka. Namun, kenaikan pada daging sapi dan kerbau lokal menunjukkan tekanan di sektor tertentu masih bertahan.
Baca Juga: Harga Daging Sapi Naik, APPDI Sarankan Operasi Pasar Daging Kerbau Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News