KONTAN.CO.ID - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperingatkan adanya potensi kenaikan harga beras dan gula akibat lonjakan harga plastik. Mahalnya harga plastik dipastikan akan berdampak langsung pada biaya kemasan yang selama ini menjadi komponen penting dalam distribusi pangan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Dwi Purnomo mengatakan, pelaku industri perlu terus meningkatkan produktivitas dan efisiensi agar harga pokok produksi dapat ditekan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan industri gula adalah menjalankan program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu dengan dukungan pemerintah. Program ini dinilai mampu meningkatkan kualitas tebu per hektare sehingga hasil produksi lebih optimal.
“Juga bantuan pupuk bersubsidi, kredit bunga rendah (KUR) dan penguatan riset untuk mendapatkan varietas unggul akan dapat membantu praktek budi daya tanaman tebu lebih baik,” ujar Dwi Purnomo kepada Kontan, Selasa (21/4/2026). Dwi menambahkan, dari sisi pabrik, sejumlah pabrik gula kini juga telah melakukan revitalisasi melalui ekspansi hingga merger atau akuisisi. Salah satu contohnya adalah merger PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dengan unit bisnis gula PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Selain itu, beberapa pelaku industri juga mulai melakukan inovasi dengan menggunakan bahan kemasan alternatif. Namun, upaya tersebut masih dalam tahap uji coba.
Baca Juga: Cek Harga Terkini LPG 12 Kg dan 5,5 Kg di Seluruh Provinsi Usai Naik hingga 18% “Kalau hanya mengurangi karung plastik bisa saja pakai packing jumbo misalnya 500 kg, tapi harus banyak penyesuaian di supply chain termasuk regulasi,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menyebut pihaknya tidak memiliki banyak ruang gerak jika terjadi kenaikan harga jual beras dan gula. Menurutnya, ritel modern hanya menjual sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku. “Kalau Aprindo hanya bisa mengimbau bahwa barang yang kita jual itu ya sesuai dengan segmen daripada konsumennya dan konsumen bisa membeli,” ujar Solihin. Solihin menegaskan, produsen dan pelaku industri juga tidak akan tinggal diam dalam menyikapi mahalnya bahan kemasan. “Nah, tapi yang sekarang ini mencari solusi pasti produsen enggak tinggal diam gitu loh. Kita lihat aja saja nanti seperti apa,” katanya. Di sisi lain, Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyampaikan bahwa kenaikan harga plastik mulai dirasakan pelaku usaha pangan dan berpotensi diteruskan ke konsumen. “Kalau kenaikan bahan baku plastik signifikan, dampaknya ke beras bisa sekitar Rp 360 per kilogram. Sementara gula berkisar Rp 100 sampai Rp 190 per kilogram,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (21/4/2026).
Tonton: Forbes Sebut Rupiah Masuk 5 Terlemah di Dunia Menurut Ketut, komponen kemasan yang selama ini dianggap sebagai pelengkap kini justru menjadi sumber tekanan baru di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas harga pangan. Industri beras dan gula masih sangat bergantung pada kemasan plastik untuk menjaga kualitas produk sekaligus mendukung distribusi. Ketut menambahkan, kenaikan harga plastik dipicu dinamika global, terutama lonjakan harga minyak serta gangguan pasokan bahan baku. Kondisi tersebut meningkatkan biaya produksi dan berisiko mendorong kenaikan harga jual di tingkat konsumen. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News